Sabtu, 14 April 2012

Lima Pusaka Puger (Alas Krebet, Gunung Sadeng, Gunung Watangan, Pulau Nusa Barong dan Samudera Indonesia)

Pusaka

Konsep wilayah budaya (landscape culture) melihat ada dua pusak / warisan utama dari suatu kebudaya, yaitu: sumber daya alam dan sumber daya manusia. Budaya yang kemudian meningkat sebagai peradaban merupakan proses dan hasil dari interaksi manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.

Kontur / bentuk alam yang dikenal dalam geografi dan struktur kehidupan manusia menjadi sumber terbentuk suatu budaya.Adanya keterikatan antara lingkungan alam dengan manusia menjadi inti dari perjalanan budaya umat manusia. Inilah realitas yang tidak dapat dibantah lagi.

Segala yang ada dalam bumi / ala mini menjadi sumber kehidupan yang diperuntukkan untuk kelangsungan hidup manusia dalam menjalankan ibadahnya untuk mendekatkan dirinya pada Sang Khalik. Upaya menggali pusaka diwujudkan dengan kesadaran sejarah bahwa terdapat interaksi manusia dengan lingkungan alamnya dengan tugas utama manusia untuk berlaku seimbang/ adil dalam interaksi ini.

Masyarakat Puger, secara umum Masyarakat Jember, haruslah bersyukur memiliki sumber daya alam yang kaya untuk kehidupannya. Namun pada realitasnya, bukannya masyarakat Puger yang mendayagunakan sumber daya alam, namun banyak dimanfaatkan oleh orang luar. Sedangkan masyarakat Puger banyak keluar daerah untuk menyambung hidupnya, padahal kalau mereka sadar mereka mempunyai pusaka yang ada di dalam wilayah puger yang sangatlah kaya raya.

Hasil penelusuran literature maupun lapangan menunjukkan bahwa setidaknya ada lima pusaka yang dimiliki wilayah Puger yang dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Lima pusaka ini dapat dilihat sebagai cagar alam dan cagar budaya yang harus terus dilestarikan. Kelima pusaka tersebut adalah Alas Krebet, Gunung Sadeng, Gunung Watangan, Pulau Nusa Barong dan Samudera Indonesia.

Pusaka Pertama: Alas Krebet

Ribuan tahun lama wilayah Puger, sebelum banyak dihuni manusia, sangat subur ditumbuhi berbagai jenis tanaman sehingga terbentuk sebagai hutan / alas. Kondisi geografis wilayah Puger (yang dulunya meliputi pula Bondowoso dan Jember tatkala masih sebagai perkampungan) sebagian besar dataran rendah serta terdapat pegunungan di sisi timur dan utara, sebelah selatan terbentang lautan luas Samudera Indonesia.

Khasanah arsip colonial Belanda membuktikan adanya Alas Krebet sebagai bagian dari wilayah Puger. Berita ini merupakan hasil perjalanan J. Hageman, Jcs, yang diungkapkan dalam tulisannya yang berjudul “Over De Nijverheid Is Zuidoostelijk Java” dalam terdapat dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Voor Nijverheid En Landbouw In Nederlandsch Indie Deel VIII Nieuwe Serie Deel III, Batavia : W. Ogilvie, 1862, hal. 27 sampai 66.

Alas Krebet disebut secara nyata dalam perjalanan Hageman sebagai djatibosch dandjatihout atau hutan jati.Alas Krebet, dari keterangan J. Hageman terletak dibagian barat Puger dan bagian utara Kentjong (ejaan lama Kencong) (lihat hal. 33).

J. Hageman menjelaskan tentang batas Poeger dengan Loemadjang yang dibatasi sebuah jembatan. Oleh J. Hageman jembatan itu diterangkan sebagai de kapitale brug atau jembatan modal alias perintisan jembatan. Jembatan ini terletak diantara Keting dan Josowilangun yang melintasi Sungai Bondoyudo.

Alas Krebet dikenal sebagai penghasil kayu jati yang kwalitasnya bagus, begitu keterangan J. Hageman (hal. 46). Hal ini menjadi realitas historis dan dapat dilihat sisa-sisanya pada masa kini, karena sekitar Alas Krebet saat ini terdapat dusun atau desa yang bernama Jatisari dan Jatiagung.

Alas Krebet saat ini menjadi sebuah dusun yang bernama Krebet yang menjadi perbatasan antara Kecamatan Gumukmas dengan Kecamatan Kencong, menjadi bagian dari Desa / Kecamatan Gumukmas. Alas Krebet dulu sangat memungkinkan sekarang menjadi Desa Wonorejo (bagian dari Kecamatan Kencong) serta Desa Purwoasri dan Desa Gumukmas (keduanya menjadi bagian dari Kecamatan Gumukmas).

Pusaka Kedua: Gunung Sadeng

Gunung Sadeng di Puger merupakan hamparan gunung kapur yang menghasilkan kapur yang berkualitas tinggi. Gunung Sadeng terletak di desa Grenden Kecamatan Puger saat ini.

Pertambangan batu kapur gunung Sadeng (Puger) terletak kurang lebih sekitar 203 km dari Surabaya. Lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan dengan rute Surabaya - Probolinggo - Lumajang - Grenden (Puger).

Tambang batu kapur ini berupa gunung gamping dengan areal seluas sekitar 183 Ha dengan kualitas putih super (high grade). Deposit atau cadangan batu kapur di Gunung Sadeng lebih dari 475.800.000 ton. Komposisi kimia batu kapur ini adalah CaO, SiO2, Al2O3, FeO3, MgO, Na2O, dan H2O.

Batu kapur ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri Oksidasi untuk memproduksi Ethilene, Kapur Tohor (CaO) serta bahan baku industri Kimia untuk memproduksi pupuk, Bubuk Pembersih, Insektisida, Fungisida, Bahan Pengisi (Filler) Pakan Ternak, Cat, Semen, Bahan Pemantap Tanah, membersihkan bau WC, campuran adukan semen dan pasir (bangun rumah), menambah zat asam tanah persawahan, dll agar tanah kembali kesuburannya, juga untuk kebutuhan tambak agar panen tambak anda lebih baik,. (GBR : kapur yang sudah di haluskan/bubuk kapur)

Selain menghasil batu kapur, Gunung Sadeng pun menghasilkan batu hitam atau Mangan. Mangan (Mn) Gunung Sadeng Puger dengan deposit sekitar 180.400 ton dengan kadar Mn 18,8 %

Pusaka Ketiga : Gunung Watangan

Wilayah Gunung Watangan merupakan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Cagar Alam Watangan Puger terletak di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan, Daerah Tingkat II Kabupaten Jember.

Penetapan Gunung Watangan sebagai Cagar Alam berdasarkan SKGB, No. 83 Stbl. 1919 No. 392 Tanggal 11 juni 1919. Kemudian diperkuat dengan Keputusan Menhutbun No. 417 / Kpts - II / 99 15 Juni 1999. Urgensi dan Potensi dari cagar ala mini terletak dari segi botanis, aestetis dan geologis.

Gunung Watangan memiliki aneka ragaman biodiversity berupa flora, fauna dan panaroma yang khas.Berbagai jenis flora / tanaman yang tumbuh di Gunung Watangan. Terdapat lebih kurang 18 jenis tumbuhan yang mendominasi kawasan Cagar alam ini. Beberapa jenis diantaranya adalah: Kepuh (sterculia foetida), Lo (ficus glomerata), Bendo (arthocarpus sp), Slumprit (Terminalia sp), Kedu (Planchonida sp), Kesambi (schleichera oleosa), Sempur (dillenia qurea), Waru laut (Habicus sp).

Beberapa jenis Satwa liar yang menghuni kawasan Cagar Alam Watangan Puger ini. Satwa liar tersebut di antaranya Kera hitam (Presbytis cristata), Kera abu-abu (Macaca Fascicularus), Kalong (Pteropus vamphyrus), Srigunting (Dicrurus sp), Perkutut (Geopelia striata), Kutilang ( Pycnonotus sp), Deruk (Ducula bicolor), Trocokan (Pycnonotus geoavier). Jenis Kera abu-abu ini sudah terbiasa dengan keberadaan manusia disekitarnya ataupun dengan pengunjung, mereka tanpa rasa takut mendekati orang-orang yang mau memeberikan makan.

Variasi pemandangan alam yang cukup menarik yaitu pemandangan alam pegunungan Gunung Puger, laut luas dan muara Sungai Bedadung. Muara Sungai Bedadung pada saat ini tempat persinggahan kapal-kapal nelayan yang mangkal dipantai desa Watangan Puger.

Wilayah Gunung Watangan memiliki keunikan/kekhasan Sumber air Kucur merupakan mata air yang berasal dari bukit hutan. Pada saat kedudukan Jepang sumber air tersebut ditampung dalam kolam buatan dengan ukuran 20 x 8 x 2 meter. Sampai saat ini kolam tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat disekitarnya sebagai kolam tempat pemandian.

Pusaka Keempat : Pulau Nusa Barong

Pulau Nusa Barong merupakan pulau terluar dari Jawa yang terletak di sebelah selatan Puger. Pulau ini menjadi cagar alam sejak tahun 1920. Di pulau ini ditemukan berbagai spesies flora dan fauna.

Jenis-jenis tumbuhan di kawasan Cagar Alam Nusa Barong yang diketahui sebanyak 46 jenis. Beberapa jenis. Beberapa jenis yang mudah dijumpai diantaranya Endog-endogan(Xanthophyiium excelsum), Klampok hutan (Eugenia sp), Bogem (brugeura sp), Kalak(Mitrophora javanica), Laban (Vitex pubesecens), Salakan (Palmae sp).

Berbagai jenis satwa liar yang terdapat di kawasan Cagar Alam Nusa Barong diantaranya terdiri dari jenis-jenis mamalia, aves, reptil. Jenis Mamalia yang sering dijumpai yaitu Kera (Macaca fascicularis), Babi hutan (Sus scropa) dan Tupai (Scewius notakas). Jenis-jenis Burung antara lain Pecuk ular (Antinga rufa), Kuntul (Egrelta sp), Iblis hitam(Plenadis falsinallus), Elang (Elanus sp) dan Burung Rangkong (Aceros undulatus).

Kawasan Cagar Alam Nusa Barong memiliki panorama alam berupa pantai pasir putih yang terdapat dibagian utara. Selain suasana alam pantai yang indah, di pantai ini sering didatangi Rusa (Cervus timorensis) bermain dipantai dan Kera (Macaca Fascicularis) yang mencari makan berupa siput dan ketam.

Berbagai jenis dan warna Terumbu Karang yang terdapat di perairan pantai kawasan Cagar Alam Nusa Barong merupakan salah satu keunikan dan ciri khas yang ada di kawasan ini, dan merupakan tantangan untuk penelitian biota laut.

Pusaka Kelima: Samudera Indonesia / Segoro Kidul

Segoro Kidul (laut selatan) begitu masyarakat Puger menamakan Samudera Indonesia yang terbentang luas di bagian selatan Puger. Samudera Indonesia dengan ombak yang besar merupakan sumber hewani yang potensial untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia.

Segoro Kidul / Samudera Indonesi menyediakan berbagai sumber pangan hayati maupun hewani yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Banyak jenis ikan yang hidup di Samudera Indonesia.

Lautan terbuka merupakan jalur dari suatu pelayaran bebas antara satu pulau dengan pulau lainnya. Wilayah bagian Selatan Puger menjadi ruang terbuka bagi datangnya para pelaut dari berbagai pulau yang mengarungi luasnya Samudera Indonesia.

Hadi Setiyo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar