Rabu, 28 Maret 2012

Pemuda Pejuang 45 dari Kecamatan Palipi-Samosir, Icon Sejarah yang Terabaikan

Ke elokan jalan lurus lintas Mogang-Palipi, Samosir cukup memacu adrenalin kaula muda diatas motor yang ditunggani. Memacu dengan kecepatan tinggi bak pembalap yang sering tampil di televisi menikmati mulusnya jalan provinsi yang melintas mulai dari Mogang hingga Palipi. Tantangan penuh resiko karena nyawa jadi taruhan tak lagi di hiraukan, sehingga melirik ataupun mengunjungi sebuah

monumen bersejarah yang terletak di pusat Kota Mogang-Palipi, tak menyisakan waktu bagi mereka yang hobi ugal-ugalan diatas sepeda motor. Atau mungkin karena tempat bersejarah ini sedikit tampak kurang terawat hingga orang yang melintas terkesan kurang tertarik untuk berkujung. Namun itu hanya opini dari penulis yang terlalu bangga karena memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat tempat-tempat bersejarah di kampung halamannya.




Sekilas, ruma batak yang berdiri kokoh dengan sebuah patung di pusat kota Palipi ini, tampak hanya sebagai sebuah taman layaknya kota-kota besar di tanah air. Namun begitu tempat ini di kunjungi, maka sejarah sosok seorang Pahlawan dari Samosir akan terungkap lewat ukiran yang terpahat indah bertuliskan “MONUMEN VETERAN PEJUANG KEMERDEKAAN RI TAHUN 45″. Adalah Johannes Hutagodang Sinaga, Sh, kelahiran Samosir 17 Desember 1924 ini memiliki catatan sejarah perjalanan hidup yang cukup membanggakan, khususnya bagi warga ber marga Sinaga dan umumnya bagi warga Samosir. Mengawali pendidikan di H.I.S pada tahun 1932-1939, kemudian masuk ke MULO pada tahun 1939-1942 dan menduduki jenjang pendidikan SMU LPPU pada tahun 1951-1953 dilanjutkan dengan mengambil Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 1953-195. Namun demikian Johannes Hutagodang Sinaga, Sh mampu mengimbangi pendidikan sipilnya sambil mengambil pendidikan militer dalam waktu yang bersamaan yakni Pendidikan Militer Seinen Renseisnyo Medan pada tahun 1944, Sekolah Territorial Tegallega Bandung pada tahun 1952, Pendidikan Perwira pada tahun 1954 dan Seskoad pada tahun 1966.



Johannes Hutagodang Sinaga, Sh tergolong sebagai pemuda batak yang penuh talenta, hal ini di ungkap melalui catatan riwayat pekerjaannya yang cukup pantastis, mulai dari Pemuda Pejuang/Wk.Ketua Barisan Pegawai Muda Tapanuli, Kepala Staf Brigade Xi Komandemen Sumatera Tapanuli, Sekretaris Gubernur Militer, Oditur Militer Tinggi, Anggota DPR/MPR Ri hingga Ketua Komisi II Politik Dalam Negeri.

Dari sekian banyak catatan sejarah yang terukir di Monumen Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ini, telah berhasil mencitrakan antusias orang batak asal Pulau Samosir akan arti pentingnya pendidikan sekaligus telah membuktikan bahwa setelah era Sejarah Pejuang Tanah Batak yakni Raja Sisingamangaraja, orang samosir mampu mengikuti jejal perjuangan Nenek Moyang nya. Satu diantaranya adalah Johannes Hutagodang Sinaga, Sh asal Kecamatan Palipi-Samosir. Sejarah perjuangan panjangnya di abadikan melalui sebuah bangunan sejarah dengan luas kurang lebih 50 meter yang dilengkapi dengan Ruma Batak, Gedung Junag dan Monumen Veteran Pejuang 45 Johannes Hutagodang Sinaga. Sayang, tempat yang sebenarnya mampu menjadi Icon kota Mogang-Palipi, Samosir ini terkesan diabaikan.

bonpasnews

Rekontruksi Pergerakan Per(empu)an Indonesia

13329643871473229659


Dalam perjalanan sejarah, wanita pernah menjadi aktor yang vokal ditengah

gelanggang politik dan sekaligus menjadi ibu dan istri yang “baik” selama

perjuangan anti kolonial. Dua peranan ini dapat berpadu dalam praktiknya, karena

wanita harus memainkan peranan politik justru agar supaya menjadi ibu yang baik

(dari rakyat dan bangsa Indonesia), dan istri yang baik (sebagai pembantu laki-


laki dalam perjuangannya). Hubungan politik antara wanita dan laki-laki menjadi

berubah secara mendasar ketika Indonesia telah merdeka. Hal itu antara lain

karena tidak adanya lagi musuh bersama, sehingga laki-laki cenderung mengklaim

bidang politik sebagai bidang mereka sendiri, dan wanita lebih diposisikan untuk

berperan di bidang sosial.Berikut ini akan dibahas perkembangan pergerakan

wanita di Indonesia, terutama peranan politik mereka dalam menghadapi kekuatan

kolonial dan menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia sebagai negara

merdeka:


Dalam sejarah Indonesia, perjuangan wanita sudah muncul sejak abad ke –


19, seiring dengan berkembangnya gerakan-gerakan politik masyarakat dalam

menghadapi kekangan kolonial. Sebut saja dalam gerakan itu seperti Christina

Martha Tiahahu dari Maluku pada tahun 1817-1819; Nyi Ageng Serang dari Jawa

Tengah pada sekitar pertengahan abad XIX; Cut Nyak Dien dan Cut Meutia di

dalam perang Aceh tahun 1873-1904; dan juga RA Kartini tahun 1879-1904;

Dewi Sartika 1884-1947; Maria Walenda Maramis tahun 1872-1924, Nyi Ahmad

Dahlan tahun 1872-1936, Rasuna Said 1901-1965.





RA. Kartini umumnya disebut-sebut sebagai salah seorang di antara tokoh-

tokoh terkemuka wanita feminis dari zamannya, dan ia memang tokoh feminis

dari masa awal yang paling terkenal. Kartini (1879-1904) adalah anak kedua

(wanita) dari Bupati Jepara, sebuah daerah di pantai utara Jawa. Ayahnya seorang

yang berpikiran maju, karenanya mengizinkan anak-anak wanitanya mengikuti

pendidikan sekolah dasar bersama-sama dengan kakak-kakak mereka. Suatu hal

yang luar biasa untuk zaman itu. Walaupun Kartini sangat ingin meneruskan

sekolahnya sesudah memasuki masa remajanya, seperti halnya kakak-kakaknya,


yang salah seorang di antaranya bahkan belajar di Universitas Leiden, Negeri


Belanda, ia justru dimasukkan ke pingitan “kurungan emas,” demikian ia

menyebut istana ayahnya di dalam salah satu suratnya. Begitulah adat-istiadat

bagi gadis-gadis bangsawan zaman itu. Di dalam pingitan itu, sambil menunggu

saat dikawinkan dengan laki-laki yang mungkin belum pernah dilihat

sebelumnya.Kartini memulai surat-menyuratnya yang luar biasa dengan beberapa

tokoh, termasuk seorang feminis Belanda yaitu Stella Zeehandelaar. Di dalam

surat-suratnya ini yang sering merupakan luapan amarah terhadap segala keadaan

yang mengungkung kebebasan geraknya, dan yang menghalangi dirinya dari

perjuangan sepenuhnya untuk kepentingan dan emansipasi rakyat Jawa pada

umumnya, dan wanita Jawa pada khususnya. Bahkan dari surat-suratnya dapat

diketahui bahwa ia pernah berangan-angan untuk tidak kawin, mandiri, dan ingin


meruntuhkan tembok feodalisme. Ia merumuskan gagasan-gagasannya, yang

unsur-unsur pokoknya adalah sebagai berikut: ia memandang pendidikan bagi

kaum wanita sebagai salah satu syarat penting untuk memajukan rakyatnya.

Dalam pandangannya, ibu yang terpelajar bisa diharapkan kemampuannya dalam

mendidik anak-anak lebih baik, tidak hanya wanita kalangan miskin, wanita

kalangan atas pun harus diberi kesempatan menjadi pencari nafkah sendiri, dan


mencari pekerjaan yang cocok bagi mereka, misalnya menjadi perawat, bidan, dan guru. Poligami harus dihapuskan karena merendahkan martabat kaum wanita.

Buah pikiran Kartini sangat terkenal juga di luar negeri. “Van Duisternis tot

Licht” (Habis Gelap terbitlah Terang) memuat surat-surat Kartini yang berisi cita-

citanya untuk kemajuan dan memajukan kaumnya. Kartini berpendapat bahwa

untuk mengatasi keterbelakangan kaum wanita terutama ialah melalui jalur

pendidikan, karena hal itu memungkinkan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan


adanya ketimpangan-ketimpangan, keterbelakangan, ketidakadilan dan

penghisapan. Pendidikan yang diberikan kepada kaum wanita pada waktu itu

cukup pengetahuan dasar berhitung, baca-tulis, ketrampilan kerumahtanggaan dan

pendidikan guru. Pendidikan bagi pribumi mengakibatkan terbukanya fikiran dan

wawasan yang menumbuhkan kesadaran untuk makin maju, dan dengan demikian

mendorong untuk bergerak berjuang demi kemajuan kaum dan bangsanya.


Kartini bukanlah satu-satunya wanita yang berjuang untuk pendidikan

kaum wanita pada zamannya. Beberapa butir dari cita-cita wanita yang dinamis,

dan dalam banyak hal juga berjiwa pemberontak ini, diikuti oleh tokoh-tokoh

wanita lainnya, terutama cita-citanya tentang pendidikan bagi kaum wanita.


Di Jawa Barat, Dewi Sartika menyebarkan pandangan yang sama, dan di daerah



Minangkabau, Sumatra Barat, Rohana Kudus berbuat serupa pula. Meskipun

demikian Kartini yang menjadi simbol gerakan wanita Indonesia. Bahkan dapat

dikatakan bahwa Kartini merupakan tokoh perintis pergerakan nasional. Dapat

dilihat dalam banyak suratnya kepada para sahabatnya, ia berkali-kali mengajak

. seluruh bangsa bumiputera untuk bangun dan memasuki “jaman baru”. Oleh

karena itu tidak mengherankan jika hari lahirnya, 21 April, selalu dirayakan oleh

organisasi-organisasi wanita dewasa ini. Adanya kaum wanita di sekolah-sekolah,

universitas-universitas, atau angkatan bersenjata, biasanya disebut-sebut sebagai


bukti tentang taraf emansipasi yang telah dicapai oleh wanita Indonesia. Pada

tahun 1964 Kartini dinyatakan sebagai “Pahlawan Nasional”. Dalam

kenyataannya kepahlawanan Kartini tersebut juga diakui oleh bangsa-bangsa

lain.Para tokoh Perintis gerakan wanita belum mempunyai perkumpulan atau

organisasi wanita, dengan kata lain berjuang orang perorangan; tetapi dalam

kenyataan bahwa mereka mengangkat senjata bahu membahu dengan kaum laki-

laki melawan penjajah Belanda, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka merupakan

sumber inspirasi bagi generasi wanita berikutnya untuk berjuang melawan

penindasan dan ketidakadilan. Juga para tokoh Perintis dalam masa sesudah


diterapkannya Politik etis Belanda di Indonesia, memberikan teladan dan

dorongan kepada kaumnya untuk meneruskan jejak langkah mereka. Mereka

berjuang untuk emansipasi dan partisipasi untuk membangun kemandirian

kaumnya, kemajuan bangsa dan kemerdekaan tanah airnya.

Unsur lain gerakan wanita Indonesia yang sedang tumbuh ialah hasrat

untuk “emansipasi nasional.” Dalam pada itu pengaruh warisan cita-cita Kartini

untuk emansipasi wanita berkumandang menembus batas-batas kamar

pingitannya, dan perhatian kaumnya pada periode kebangkitan dan kesadaran

nasional ini mulai juga untuk meningkatkan perjuangan wanita.


Pada tahun 1912 muncul organisasi wanita yang pertama di Jakarta “Putri

Mardika” atas bantuan Budi Utomo. Kemudian di Jawa Tengah seperti

“Pawiyatan Wanito” di Magelang yang berdiri tahun 1915, “Wanito Hadi” di

Jepara tahun 1915, “Purborini” di Tegal tahun 1917, “Wanito Susilo” di Pemalang

tahun 1918, “Darmo Laksmi” di Salatiga, “Karti Woro” dan “Budi Wanito” di

Solo, “Wanito Kencono” di Banjarnegara, “Panti Krido Wanito” di Pekalongan,

dan “Kesumo Rini” di Kudus. Selain itu juga berdiri organisasi “Wanito Rukun


Santoso” di Malang, “Putri Budi Sejati” di Surabaya tahun 1919, “Wanito Mulyo”

di Yogyakarta tahun 1920, “Wanito Utomo” di Yogyakarta tahun 1921, “Wanita

Taman Siswa” tahun 1922, “Aisyiyah” di Yogyakarta tahun 1917, “Wanita

Katholik” di Yogyakarta tahun 1924, “Jong Islamiten Bond Dames Afdeeling” di

Jakarta tahun 1925. Di pulau Sumatera berdiri organisasi pergerakan wanita antara lain “KAS”

(Kerajinan Amai Setia) yang didirikan tahun 1914, “keutamaan Istri” di Medan,

“Istri Sumatera”, “PARMI” (Partai Muslimin Indonesia) Bagian Istri, “Persatuan

Istri Andalas”, dan sebagainya. Di Sulawesi berdiri organisasi-organisasi wanita

antara lain “PIKAT” (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) di Menado


tahun 1917, “Sarekat Rukun Istri” di Makasar, dan sebagainya. Di Kalimantan berdiri organisasi “Wanito Kencono”. Di Bali berdiri organisasi “Perukunan Istri

Den Pasar”.Kesemuanya, baik organisasi-organisasi bagian wanita dari organisasi

partai umum, maupun organisasi-organisasi lokal kesukuan/kedaerahan bertujuan

menggalakkan pendidikan dan pengajaran bagi wanita, dan perbaikan kedudukan

sosial dalam perkawinan dan keluarga serta meningkatkan kecakapan sebagai ibu

dan pemegang rumahtangga. Gerak kemajuan pada tahun-tahun sebelum 1920

dapat dikatakan lamban. Sebab-sebabnya ialah sangat kurangnya sekolah-sekolah

untuk wanita pribumi, lagi pula kadang-kadang juga tiadanya izin dari orang tua

(dikalangan atas) atau diperlukan tenaga mereka untuk membantu orang tua


(dikalangan bawah). Disamping itu adat dan tradisi sangat menghambat kemajuan

wanita.




Sesudah tahun 1920 jumlah organisasi wanita bertambah banyak.

Kesediaan mereka untuk terlibat dalam kegiatan organisasi makin meningkat dan

kecakapan berorganisasipun bertambah maju. Hal ini disebabkan karena

kesempatan belajar makin meluas dan berkembang ke lapisan bawah. Dengan

demikian jumlah wanita yang mampu bergerak di bidang sosial politik juga


bertambah luas dan tidak lagi terbatas kepada lapisan atas saja. Oleh sebab

semuanya itu, maka sesudah tahun 1920 dapat dilihat jumlah perkumpulan wanita

bertambah banyak sekali, bahkan organisasi-organisasi sosial politik seperti

P.K.I., S.I., Muhammadiyah dan Sarekat Ambon mempunyai bagian wanita.

Bagian wanita tersebut dalam penyebaran cita-cita tentu saja mempertinggi hal-

Kemajuan gerakan wanita sesudah tahun 1920, terlihat juga dengan makin

banyaknya perkumpulan-perkumpulan wanita kecil-kecil yang berdiri sendiri.

Hampir di semua tempat terutama kota-kota terdapat perkumpulan wanita. Seperti

pada masa sebelum 1920, perkumpulan-perkumpulan itu mempunyai tujuan yang


sama, ialah untuk belajar masalah kepandaian putri yang khusus dan berperan

dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.




Menjelang tahun 1928, organisasi wanita berkembang lebih pesat. Sikap

yang dinyatakan oleh organisasi-organisasi wanita pada waktu itu, umumnya lebih

tegas, berani dan terbuka. Perkembangan kearah politik makin tampak, terutama

yang menjadi bagian dari S.I. (Sarekat- Islam), P.K.I. (Partai Komunis Indonesia),

P.N.I. (Partai Nasional Indonesia) dan PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia).


Walaupun masing-masing organisasi yang bersifat kedaerahan dan

keagamaan ini mempunyai masalah dan kegiatan sendiri-sendiri, juga ada

beberapa kesamaan kepentingan yang didukung kebanyakan organisasi. Peranan

seorang istri dan ibu “yang baik” sangat diutamakan, dan agar bisa mengemban

tugasnya dengan baik kaum wanita dianjurkan untuk memperoleh pendidikan

yang baik, dan mempelajari keterampilan yang sangat diperlukan seperti menjahit

pakaian dan mengasuh anak. Akan tetapi organisasi-organisasi wanita Kristen dan

“non-agama” di satu pihak, dan organisasi-organisasi wanita Islam di pihak lain,

dipisahkan sangat dalam dan menentukan oleh masalah sentral: poligami.


Organisasi wanita Kristen dan non-agama memandang poligami sebagai

penghinaan terhadap kaum wanita yang tidak bisa dimaafkan, dan justru karena

itulah mereka aktif berjuang melawannya, sementara organisasi-organisasi wanita

Islam hanya menginginkan perbaikan kondisi di dalam poligami, bukan

menghapuskan lembaga poligami itu sendiri.

Upaya-upaya untuk menyatukan

gerakan wanita pun dilakukan dan hal itu antara lain tercermin dari adanya

penyelenggaraan musyawarah, kongres, dan lain-lain.

Priya Purnama

Nau mai, Haere mai. Selamat Datang ke Te Papa: Serba-Serbi New Zealand (2)

1332969808508794341

Pintu Masuk Te Papa


Wellington, sekali lagi merupakan ibukota negri Selandia Baru yang tenang dan aman. Dan kota ini dipenuhi juga oleh banyaknya museum-museum yang cantik dan yang terpenting adalah hampir semuanya dapat dikunjungi dengan gratis. Dan unutk sementara, bolehlah kita melupakan kepadatan dan kemacetan Jakarta.


Dari hotel saya di kawasan Wakefield Street, cukup berjalan kaki sekitar tiga menit melewati Taranaki street dan kemudian belok kanan di Cable street. Dari kejauhan sebenarnya gedung museum yang berlantai enam ini sudah kelihatan megah dan juga menjadi salah satu ikon kota Wellington.

It is a must see when you are in Wellington, resepsionis di hotel saya menyarankan saya untuk pergi ke museum ini sebagai tujuan pertama dalam lawatan ke kota yang disebut “The coolest little Capital in the world” ini. Dan kebetulan buku Official Travel Guide yang saya dapatkan di lobby hotel juga memuat tempat ini sebagai nomer satu di antara top ten things to do in Wellington.




133296993247678351

Te Papa - Our Place

Sesampai nya di halamannya yang luas, sebuah tugu berbentuk bilah menyambut saya. Tertulis dalam warna putih berdasar hijau dengan besar “Te Papa”. Sementara di bawahnya tertulis terjemahannya dalam Bahasa Inggris yaitu “Our Place”. Di halaman yang luas ini juga dengan gagah berkibar beberapa buah bendera kebangsaan New Zealand yang berwarana biru dengan Union Jack kecil di sudut kiri atas dan empat buah bintang berwarna merah putih menghiasi bendera ini. Sementara bangunan klasik Circa Theater juga berada di sekitar Bangunan megah ini, seakan-akan ikut menghiasi halaman museum ini dengan manisnya.


13329700391165893660

Bendera NZ


Saya berjalan perlahan menuju pintu masuk yang terbuat dari kaca dengan tukisan “Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa” di atas pintu masuk tersebut. Nau Mai, haere mai”, seorang pegawai wanita berusia hampir 60 tahunan menyambut saya dengan ramah. Artinya kira-kira “Halo, selamat datang”. Wanita itu kemudian memberikan sebuah brosur yang berisi panduan kunjungan secara gratis sambil bertanya : “Where are you from?” Ketika dijawab, Indonesia, wanita tersebut masih bertanya lebih jauh lagi nama kotanya. Dan ketika dijawab Jakarta, maka dia pun berkomentar menyatakan bahwa Jakarta adalah kota yang sangat besar dan luas. “ What a big big city “. Katanya sambil tersenyum.Saya kemudian menaiki eskalator menuju lantai dua setelah sebelumnya menitipkan ransel bawaan saya. Dan dimulailah pengembaraan selama sekitar tiga jam menikmati sebagian isi museum yang terdiri dari enam lantai ini.


13329701661884552719

Elang dan Emu


Di lantai dua, yang meanrik perhatian saya adalah dipamerkannya kekayaan fauna New Zealand yang meliputi bermacam-macam satwa baik di darta laut dan udara, Sebuah film 3D bercerita tentang kehidupan gurita di dalam air. Selain itu juga dipamerkan sebuah Gurita Raksasa.

Selain itu, sebuah pameran mengenai dashyatnya gempa bumi yang sering terjadi di negri ini juga membuat kita sadar bahwa negri yang indah ini pun rentan terhadap gempa bumi dan bencana alam lainnya. Selain gempa bumi yang baru saja tahun 2011 terjadi di Christchurch, juga dipamerkan tentang gempa bumi hebat yang melanda Tarawera pada 1886. Dan yang paling menarik adalah penjelasan tentang EQC atau Eatrhquake Commission yang merupakan suatu badan pertanggungan yang memberikan perlindungan asuransi bila terjadi gempa bumi.




1332970292239905626

Treaty dalam dua bahasa


Di dalam museum ini, kita juga dapat belajar sejarah terbentuknya New Zealand sebagai sebuah negara dan bangsa. Perjanjian Waitangi atau Treaty of Waitangi yang ditandatangani pada 6 February 1840 merupakan cikal bakal terbentuknya negara ini. Pada perjanjian itu diakuilah orang Maori sebagai pemilik resmi dan sah tanah Selandia Baru dan juga sekaligus hak mereka sebagai “British Subject”.

Menariknya, perjanjian yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Bahasa Maori ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam dua versi tersebut. Versi Maori dibuat lebih memihak bangsa Maori, sedangkan versi Inggris dibuat dengan tujuan untuk membuat tanah New Zealand atau Aoteaora sebagai tanah jajahan Inggris. Dua versi perjanjian itu pun dipamerkan di sini.


1332970409422824841


Masih banyak pameran menarik di dalam museum ini yang kalau mau dikunjungi semua tidak akan habis dalam dua hari, namun tempat yang menarik lagi adalah Te Marae, yang terletak di lantai empat. Tempat ini merupakan tempat bekumpulnya suku Maori dan dirancang dengan indah penuh hiasan yang menampilkan keindahan seni bangsa Maori.

Setelah lebih tiga jam, dan sempat juga mampir ke wharepaku atau toilet, maka sayapun kembali turun ke lantai dasar, mengambil tas yang dititipkan dan kemudian meninggalkan museum Te Papa yang di sebut sebagai Tempat Kami oleh orang New Zealand.
13329704711815286682

kata-kata bijak


Sambil berjalan menyusuri “waterfront” kota Wellington saya pun termenung akan arti sebuah museum, yang menyimpan kekayaan seni, budaya, keindahan alam dan juga keganasan sejarah. Benarlah sebuah pesan oleh seorang pemimpin bangsa Maori yang tetulis di dalam museum ini: Nga Toki heke! , Maringi Kino E Toha Ma Ra, Te Whenua Pamamao yang artinya : Blood was shed! Spilt and Scattered, in a Distant Land.

Taufikuikes

Falsafah Diri Situs Gunung Padang

By Raden Wiraatmadja in ATLANTIS INDONESIA (AI)

Situs Megalitikum Gunung Padang menyiratkan perjalanan hidup manusia, tidak hanya badaniah tetapi juga rohaniah. Perjalanan lahir dan batin ini mengisyaratkan proses pencapaian manusia yang manusiawi. Falsafah kemanusiaan di tanah Sunda membedakan “jalma” (jelema) dengan “manusa”. Kata pertama bermakna semenjak lahir seseorang baru “menjelma” menjadi mahluk. Ia belumlah manusia seutuhnya. Dia masih harus menjalani pendidikan yakni pembentukan dan pengembangan diri lahir dan batin. Kata kedua menjelaskan kondisi manusiawi bagi seseorang. Kondisi manusiawi dalam kata “Manusa” dijelaskan dengan hakikat “Kamanusaan”. Hakikat ini berisi tiga keterarahan: “Kami” atau kepada Yang Maha Kuasa pemberi kehidupan, “Kama” kepada orangtua sebagai “sebab” keberadaan (cukang lantaran) dan “Nusa” atau kepada alam sebagai sesama mahluk dalam kehidupan. Ketiga keterarahan di atas menggambarkan secara kodrati manusia mampu mewujudkan “kasampurnaan”.

“Kasampurnaan” dalam konteks ini lebih berarti tugas untuk memelihara dan menata dirinya, sesama manusia, alamnya berdasarkan kekuasaan yang dititipkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa. Tugas itu diemban pula karena konstelasi kehidupan dalam semesta sudah dan selalumenyempurnakan manusia. Kasampurnaan memang mengandaikan kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya. Kelebihan itu justru menjadi amanat dan mandat yang sewajarnya diwujudkan karena kodratnya. Amanat dan mandat ini diberi wujud keutamaan, sikap hidup, dan perilaku mulia .

Perjalanan Menemukan Diri Perjalanan kehidupan seperti ini tertuang dalam peziarahan di Gunung Padang. Perjalanan di Gunung Padang menyiratkan penemuan jatidiri dan mengalami “gumulung” dengan Yang Maha Kuasa dan Semesta. Perjalanan atau “nyucruk galur” tersebut digambarkan dalam wujud (tanggara), nama (ungkara) dan makna (uga) dari tiap-tiap batu di Gunung Padang. Batu menyatakan “Baca” dan “Tulis”. Manusia dianjurkan membaca semesta dan membaca dirinya sendiri. Muara dari membaca alam dan diri” ialah menuliskannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Berkaitan dengan proses penemuan diri tersebut berikut ini penjabaran tanggara, ungkara dan uga setiap batu. 1. Mata Air Cikahuripan Wujud (tanggara): mata air gunung. Nama (ungkara): Cikahuripan Uga (uga): Mata air gunung sering diibaratkan air susu ibu, cai nyusu. Air sebagai sumber dan asal kehidupan manusia (kondisi dalam rahim janin hidup dari dan dalam cairan.

Hampir seluruh tradisi di muka bumi ini meyakini manusia berada dalam kondisi yang bersih. Maksudnya, bersih dalam arti steril; dan secara metaforik berarti suci atau dalam istilah keagamaan tanpa dosa. Karena itu, manusia selayaknya senantiasa membersihkan diri dengan kembali ke air. Air tidak hanya membersihkan tubuh atau wadah. Tetapi juga air membersihkan isi atau pikiran dan rasa.

Dalam kondisi bersih itu manusia mengalami kehidupan untuk memulai perjalanan spiritualnya. Membersihkan diri dengan mata air Cikahuripan atau cai nyusu, bermakna bahwa kehidupan memiliki awal, manusia berasal dari air (sagara). Kesadaran akan awal membawa penyadaran akan tujuan kehidupan. Hidup mempunyai tujuan, dan karena tujuan itu lahirlah alasan untuk menghidupi hidup itu sendiri. 2. Lawang Saketeng Tanggara: Gapura dengan 9 anak tangga. Ungkara: Lawang Saketeng, atau uga: Gapura ini menyimbolkan penyadaran keberadaan Diri seseorang dan keterkaitannya dengan Semesta dan Yang Kuasa. Keterkaitan ini disadari melalui doa pembukaan di gapura. Rangkaian doa ini menunjukkan bahwa seseorang selalu berkaitan dengan para leluhur (karuhun, orangtua, kasepuhan), Semesta dan Yang Maha Kuasa. Keterkaitan itu disimbolkan dengan 9 anak tangga memasuki situs Nagara Padang. Angka 8 mewakili setiap penjuru mata angin yang, dan 1 ialah inti dari kehidupan yakni Yang Maha Kuasa. Doa pembukaan bertujuan juga untuk mendoakan orangtua dan para leluhur, dan memohon doa mereka untuk perjalanan dan penemuan hakikat diri (tekad). Seseorang mendoakan orangtua dan leluhur kepada Yang Kuasa agar amal bakti yang mereka lakukan sepanjang hidup menjadi keharuman bagi keturunannya. Keharuman bagi keturunan sekaligus juga mengharumkan nama Yang Kuasa. Orangtua dan leluhur (karuhun) dan semesta akan menjadi perantara yang menghantar seseorang untuk mengungkap jatidiri dan hakikat diri. 3. Palawangan Ibu Tanggara:

Susunan bebatuan membentuk celah Ungkara: Batu Palawangan ibu Uga: Batu ini menjadi simbol untuk rahim ibu. Keberadaan manusia dan perjalanan hidupnya diawali dengan kelahiran. Kelahiran juga mengingatkan seseorang pada awal dan tujuan hidup. Dengan kelahiran lalu setiap orang memiliki tugas yang harus dikerjakan. Ini nanti berkaitan dengan upaya menemukan dan menjalani takdir. Batu ini pun menandai kelahiran baru bagi seseorang yang memiliki visi dan misi tertentu. Kelahiran baru penting supaya ia menjalani hidup sebagai insan yang mempunyai semangat dan paradigma baru mengenai kehidupan. Ini mempengaruhi bagaimana kemudian kita menyadari bahwa hidup itu sendiri selalu menjadi langkah baru bagi setiap orang. 4. Batu Paibuan Tanggara: Batu megalitik besar dan batu bedak Ungkara: Batu Paibuan, atau Batu pengasuhan Ibu untuk si jabang bayi. Pada situs ini terdapat juga batu bedak, yang menjadi tanda bagi perawatan ibu kepada anaknya. Uga: Batu ini mengingatkan seseorang pada pengasuhan ibu yang diterimanya pada saat kelahiran, dan pengasuhan ibu yang dialaminya setelah ia “lahir baru”. Pengasuhan ibu berhubungan dengan pendidikan rasa. Rasa penting ditumbuhkan karena kepekaan dan kesadaran akan kehidupan itu sendiri berasal dari kemampuan ini. Ketika rasa berkaitan dengan pikiran, hasilnya ialah pertumbuhan peradaban, manusia yang berbudaya. Pengasuhan rasa dikaitkan dengan pendidikan pikiran. Pendidikan pikiran merupakan bagian dari Ayah. Pendidikan pikiran berkaitan dengan penanaman ilmu dalam artian kemampuan teknis dan pengetahuan umum mengenai kehidupan.

Pendidikan Ayah berikaitan dengan derajat martabat kemanusiaan. Seseorang belajar mengenal rasa dan pikiran melalui perilaku orangtuanya. Melalui pendidikan Bapak dan Ibu anak mengenal juga prinsip dan keutamaan melalui teladan. Dengan demikian, anak pun mengalami bahwa prinsip dan keutaman hidup merupakan kekuatan kodrati. Artinya keutamaan dan prinsip sudah mendarah daging dalam tubuh dan jiwa manusia. Jika orangtua menampilkan keutamaan dan prinsip dalam perilaku sejak dini, anak mempelajari kemanusiaan baik sebagai wujud penyempurnaan diri setiap orang maupun sebagai medan perjumpaan dengan Yang Kuasa. 5. Panyipuhan Tanggara: Lempeng batu pipih mirip besi yang siap ditempa dan dibentuk. Ungkara: Batu Panyipuhan Uga: Simbol untuk tempat pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang dapat mengalami pengembangan dan pembentukan ilmu, watak, karakter dan perilaku dari pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang mengasah ilmu, mengolah fisik, belajar membentuk watak dan karakter, belajar memperlakukan keutamaan dan prinsip-prinsip hidup dalam pergaulan sehari-hari di sekolah. Seseorang akan belajar mengenal kekuatan kodrati dalam dirinya ketika dia memperlakukan hal-hal yang dipelajari di atas. Kekuatan itu berasal dari Yang Kuasa, dan diberikan agar manusia bertindak sebagai pengemban kekuasaan tersebut dalam menyempurnakan semesta ini. 6. Poponcoran Tanggara: Susunan batu yang membentuk lorong yang bisa dilalui tubuh manusia. Batu ini mengarahkan orang ke posisi lebih tinggi Ungkara: Batu Panyipuhan. Susunan batu ini. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk ujian dan kelulusan. Setiap orang pada saatnya untuk diuji. Jika seseorang sudah menggali ilmu, mengembangkan dan membentuk diri: watak, karakter dan perilaku, ia harus melewati tahap ujian akhir. Jika ia dapat melewati ujian akhir ini, ia lulus dari sekolah, madrasah atau pesantren. Artinya, ia menyelesaikan tahapan penggemblengan fisik dan mental. Pendidikan telah dialami secara lengkap: pendidikan pikiran, rasa dan tubuh. 7. Kaca Saadeg Tanggara: Batu ini berbentuk vertikal-datar. Pada batu ini seolah-olah seseorang bercermin.. Ungkara: Batu Kaca Saadeg. Uga: Batu ini mengisyaratkan saat bercermin diri: mengingat identitas dan tujuan hidup: “siapa saya?”; “apa tujuan hidup ini?” (visi); “apa keinginan saya dalam hidup?” (misi). Proses ini disebut menerawang diri (narawang). Refleksi diri untuk menentukan tujuan (visi) dan keinginan (misi) dalam hidup. Visi dan misi membantu seseorang menyempurnakan diri, atau mewujudkan kemanusiaan dalam dirinya. Karena itu, Visi dan misi hidup merupakan tugas yang harus dipenuhi sebagai seorang manusia yang manusiawi. Jika sudah menentukan tujuan dan keinginan, tekad harus ditetapkan untuk melangkah selanjutnya. 8. Gedong Peteng Tanggara: Batu menyerupai gua yang gelap. Lokasinya sendiri terletak di bagian bawah dan tertutup pohon rimbun. Lokasi ini menyebabkan batu ini tidak banyak terkena sinar matahari, atau gelap. Kegelapan inilah yang kemudian menjadi nama, atau peteng. Ungkara: Batu Gedong Peteng. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk diri yang masih gelap (peteng) dan ingin mendapatkan penerangan atau petunjuk untuk menapaki hidup berdasarkan karir yang diinginkan. Setiap orang harus menentukan karir dalam bentuk pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Karir akan membawa orang merealisasi tujuan (visi) dan keinginan (misi) pribadi. Ini penting agar seseorang yang baru saja menyelesaikan tahap pendidikan dapat terus mengembangkan ilmu, watak, karakter dan perilaku. Proses pemanusiaan masih terus terjadi. 9. Karaton Tanggara: Karaton atau Istana Ungkara: Batu Karaton. Uga: Istana menyimbolkan kedudukan, dan kewibawaan seseorang berdasarkan tugas yang diembannya. Jika seseorang bekerja berdasarkan karir yang dipilihnya, ia akan mengalami promosi atau kenaikan tingkat keahlian. Seseorang juga dapat mendapatkan kedudukan berdasarkan pilihan bersama siapa ia akan menjalani hidupnya, yakni membentuk keluarga. Kedudukan berdasarkan karir atau kenaikan tingkat keahlian ditentukan berdasarkan baik pewujudan ilmu dan keahlian maupun watak, karakter dan perilaku. Entah ia berkerja mandiri atau bekerja di bawah pimpinan orang lain, entah sebagai pekerja atau sebagai pemimpin pekerjaan sehari-hari akan mengasah ilmu, keahlian dan perilaku. Berdasarkan kedudukan ini setiap orang memiliki tugas masing-masing. Demikian juga berlaku untuk kedudukan dalam keluarga. Entah bapak entah ibu memiliki tugas yang sejajar dalam keluarga. 10. Kutarungu Tanggara: Batu ini menjulang tinggi, menyerupai telinga. Ungkara: Batu Kutarungu. Nama Kutarungu mengacu pada tempat (kuta) dan pendengaran (rungu). Juru kunci menghubungkannya dengan telinga tubuh dan telinga batin. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap hati yang teguh seperti digambarkan oleh Batu yang menjulang tinggi. Sikap hati yang teguh akan mendengarkan suara hatinya, dan tidak mendengarkan suara-suara yang dapat membelokkan jalan yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan misi pribadi. Kearifan Sunda menekankan pentingnya mengenali kemampuan pancaindra bagi kehidupan. Salah satu yang penting ialah telinga. Batu bagi pendengaran ini bermakna kemampuan bertindak sesuai dengan suara hati. Suara hati atau pusat diri menuntun seseorang untuk teguh pada pendirian berdasarkan prinsip. Seseorang yang telah menjalankan karir sesuai dengan tugas dan kedudukannya diandaikan memiliki prinsip yang teguh, atau teguh pada kebenaran yang diyakininya Ia tidak mudah dihanyutkan oleh suara-suara (pendapat, gosip, isu, fitnah, kabar-kabar lainnya) yang dapat membelokkannya dari jalan menuju visi dan misi. Jika seseorang berpegang pada suara hatinya (prinsip dan keutamaan hidup), dia dapat membedakan mana kecenderungan konstruktif (kebaikan), mana yang destruktif (kejahatan). Seseorang diharapkan mampu mengolah informasi yang didengarnya (diterimanya) sebelum bereaksi. Dengan kata lain, seseorang diajak untuk bertindak bijak, menghindari sikap ceroboh dan sembrono, asal memberikan tanggapan, dan mengikuti kecenderungan jahat dalam dirinya. 11. Bumi Agung Tanggara: Batu besar yang menjulang tinggi. Batu ini harus didaki dari satu sisi dan turun pada sisi lain yang berhubungan dengan batu besar berikutnya, Batu Korsi Gading. Dari puncak batu ini bisa terlihat lansekap tatar Bandung di segala penjuru. Agung menandai tanah, bangsa dan juga nagara atau Diri. Agung berkonotasi dengan mulia. Ungkara: Batu Bumi Agung. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap menjunjung tanah air atau bela bangsa. Kesadaran bahwa pemilik kehidupan bukanlah diri pribadi, tetapi Yang Kuasa berkonsekuensi kesadaran untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa (membela bumi). Tanah air dan bangsa meliputi semesta berikut benda dan mahluk yang mengisinya. Artinya, seseorang mempunyai tugas untuk membaktikan keberhasilannya untuk segenap mahluk dan semestanya. Membela bangsa sama saja artinya dengan membela diri sendiri. Maksudnya memelihara dan menjaga tubuh sebagai “bumi” bagi pikiran dan rasa. Menata tubuh berimplikasi pada penataan pikiran dan rasa juga. Tujuan penataan ini ialah menjadikan tubuh, pikiran dan rasa mediasi untuk memancarkan kekuasaan Yang Maha Kuasa dalam merawat dan menata Semesta. Membela bangsa dan tubuh disebut amal ibadah manusia kepada Tuhan dan Semesta. Prinsip-prinsip hidup, keutamaan yang telah dihayati bersama dengan tugas–melalui karir atau pekerjaannya — ditujukan untuk menata, memelihara dan mengembangkan setiap jenis kehidupan. Di sinilah prinsip silih asih dan silih asuh hendak diwujudkan di tengah-tengah semesta beserta isinya. 12. Korsi Gading Tanggara: Batu ini berbentuk kursi. Gading mengisyaratkan tahta. Seseorang yang menaiki Batu Bumi Agung, sebelum turun harus menyeberang ke Batu ini untuk duduk di sini. Ungkara: Batu Korsi Gading. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk membaktikan kekuasaan berdasarkan tugas yang diemban untuk merawat dan menata diri sendiri, tanah air dan bangsa, atau Semesta. Masih berkaitan dengan Bumi Agung, tempat ini bermakna untuk membaktikan kedudukan berdasarkan tugas untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa. Dharma seseorang termasuk membaktikan kedudukan bagi nusa dan bangsa. Kedudukan memunculkan kekuasaan atau kemampuan menata dari dalam diri seseorang. Kekuasaan justru semakin berarti jika diwujudkan untuk menolong dan membantu sesama, atau secara luas memelihara dan mengembangkan kehidupan. Dengan kata lain, semakin berkuasa seseorang semakin ia dituntut oleh kodratnya sendiri untuk mengungkapkan belas kasih (welas asih). 13. Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Tanggara: batu berbentuk tugu. Di atas tugu itu terdapat tatahan ibu jari. Ungkara: Batu Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Uga: Batu ini menjadi simbol untuk mensyukuri (nuhunkeun) prinsip dan keutamaan silihwangi pada Yang Kuasa. Batu ini masih berhubungan dengan Batu Bumi Agung, dan Batu Korsi Gading. Prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh dan prinsip welas asih atau rohman rohim berkaitan dengan keutamaansilihwangi. Silihwangi berarti saling menghormati, saling menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Setiap orang tanpa pandang bulu memiliki tugas untuk saling hormat dan saling menjunjung martabat dan harkat kemanusiaan. Karena itu, seseorang perlu mensyukuri (nuhunkeun) keutamaan ini kepada Yang Kuasa karena secara kodrati manusia sudah dititipi kemampuan ini dan memangmampu merealisasi keutamaan ini dalam hidup sehari-hari. Mensyukuri berarti mengingat dan memperlakukan keutamaan itu berdasarkan keyakinan yang dipegang. 14. Lawang Tujuh Tanggara: Pintu menunjukkan jalan atau jalur. Tujuh mengarah pada jumlah hari dalam satu minggu. Ungkara: Batu Lawang Tujuh atau Pintu Tujuh. Uga: Batu ini menyimbolkan perjalanan menempuh “jalur” hidup yang sudah ditentukan berdasarkan waktu kelahiran (7 hari). Setiap orang mempunyai “jalan”nya masing-masing untuk mewujudkan visi dan misinya. Jalan itu sudah diberikan berdasarkan hari kelahiran. Tugas manusia untuk menjalani jalur itu berdasarkan pada visi dan misinya. Jalur tersebut akan mengembalikan kita kepada Yang Kuasa, yang menjadi pusat dan bersemayam dalam diri manusia. 15. Padaringan (leuit Salawe Jajar) Tanggara: Jajaran batu megalitik yang melingkar. Ungkara: Batu Padaringan. Padaringan berarti juga leuit atau lumbung padi. Lumbung padi itu digambarkan berjumlah 25 dan letaknya sejajar. Uga: Batu ini menyimbol lumbung padi (leuit atau padaringan) menandai kesejahteraan manusia dan pencapaian kepenuhan hidup sebagai manusia. Kesejahteraan itu hendak dialami nuansa kebersamaan. Nuansa kebersamaan ini digambarkan dengan posisi sejajar. Di sinilah keutamaan Sapajajaran dikenali. Adalah tugas seseorang yang sudah mencapai keberhasilan dan kedudukan untuk menyejahterakan bumi atau semesta beserta isinya. Menyejahterakan bumi dan seisinya ibarat mengisi lumbung, atau menyediakan sumber kehidupan bagi tanah air dan bangsa. Visi dan misi seseorang tercapai jika ia mampu menjadi pengemban kekuasaan Ilahi untuk membagikan kesejahteraan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Ia mengikuti peran Ibunya yang menyusui dan mengasuh anak tanpa memandang anak ini kelak berbuat kebaikan atau kejahatan. Membagikan kesejahteraan bagi bumi dan sesama menandai keadilan. Prinsip keadilan mengejawantahkan keutamaan sapajajaran. Pada dasarnya manusia tidak mengenal pembedaan berdasarkan status lahir. Berdasarkan kodratnya manusia dalam keragamannya sejajar satu sama lain, juga berdasarkan kodratnya, manusia pun sejajar dengan mahluk lain karena sama-sama ciptaan. Demikian juga kesejajaran itu dihayati dalam relasi manusia dengan alam semesta. 16. Puncak Manik Tanggara: Tanah datar yang dikelilingi bebatuan besar membentuk cincin. Ungkara: Puncak Manik. Manik berarti wadah. Dalam wadah itu terjadi persatuan antara Diri dengan Semesta dan Yang Kuasa. Persatuan itu digambarkan pula dengan kembalinya manusia ke asalnya ketika ia mencapai tujuannya. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk pencapaian dan perwujudan visi – misi pribadi serta kembalinya atau bersatunya manusia dengan Semesta dan Yang Kuasa. Usaha mewujudkan visi dan misi mengenal batas. Batas itu ialah puncak keberhasilan dan kedudukan. Puncak berarti sudah tercapai visi dan misi atau visi dan misi “sudah di tangan”. Imperatif berikutnya ialah segeralah menggunakan kedudukan dan keberhasilan, atau kemampuan untuk beramal ibadah, berbakti dan berbagi (“Tereh make salawasna”) Kemampuan ini yang disebut mewujudkan manusia yang manusiawi, yang bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Puncak manik juga berarti kembalinya seseorang pada jatidirinya yang asali. Jatidiri setiap manusia ialah persatuan dengan asal dan tujuan hidup: Yang Kuasa, “Sang Diri”. Peristiwa ini kemudian diberinama “pulang”. Inilah sebenarnya pencapaian tertinggi usaha dan kekuasaan manusia. Keunggulan dan kewibawaan pada akhirnya akan kembali. Penutup Situs Nagara Padang mengandung permainan aksara dan bunyi pada kata “Nagara”. Kata tersebut berupa siloka (teka-teki) yang membuat pembaca berpikir tentang makna. Jika “na ga ra” dibaca seperti tertulis, maka alam pikir bahasa Indonesia memberinya makna pada pelembagaan atau organisasi kolektivitas manusia berdasarkan tujuan yang sama dan dibangun untuk kesejahteraan bersama (bonum commune). Makna “nagara” atau negara seperti ini tidak akan berarti banyak dalam situs ini, juga untuk pemahaman kehidupan dalam budaya Sunda. Kata “Na ga ra” harus dibaca dari belakang “Ra ga na”. Kata tersebut dilengkapi dengan kata bantu “dina” supaya lebih mengangkat makna terdalam dari nama situs tersebut. Lengkapnya menjadi “Dina Ragana”. Jelaslah apa yang dimaksud: “di dalam raga” atau badan. Teka teki terjawab: jiwa, atau yang memberi gerak dan langkah pada raga. Jiwa menjadi isi bagi badan atau wadah. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak berkedudukan secara hirarkis. Jiwa memancarkan kemampuannya melalui tubuh. Jiwa menggantungkan diri secara simbiotik saling menghidupi dengan badan. Badan dalam pemahaman demikian tidak berarti penjara bagi jiwa. Badan menyalurkan kemampuan jiwa. Badan mencerminkan kualitas jiwa yang dikandungnya. Badan memiliki kedudukan penting karena wadah ialah cermin bagi isi. Keduanya “menjadi kesatuan yang saling melengkapi dengan kekhasan, yakni kedudukan dan tugasnya masing-masing. Kesatuan ini tampil diungkapkan dengan metafor “Diri”. “Diri” merupakankesatuan jiwa-badan. Tanpa kesatuan dalam “diri” hidup manusia tidak berarti. Metafor “Diri” pun merupakan permainan suku kata dari “Da” dan “Ra”. “Da” bermakna semesta dan “Ra” mengarah pada cahaya. Permainan suku kata atau aksara Sunda ini menempatkan “Diri” sebagai “Cahaya Semesta”. Makna permainan kata berdasarkan aksara ini menempatkan “diri” di tengah-tengah. “Posisi tengah” digambarkan dengan metafor puitik “Buana Pancer Tengah”. “Tengah” memang sangat mudah diartikan “pusat”. Secara diagramatik, tengah selalu mengacu pada pusat. Posisi “Tengah” dalam konteks buana pancer tengah atau diri sebagai cahaya semesta merujuk pada makna “di antara”. Posisi ini berfungsi menjaga keterjalinan (bukan keseimbangan) antarunsur yang berada di sekitarnya. Unsur-unsur itu tidak merujuk dan bergantung pada posisi tengah. Rujukan dan ketergantungan unsur pada posisi tengah hanya akan menunjukkan diri sebagai pusat semesta. Dalam pemahaman ini, diri adalah cahaya semesta, yang menerangi atau gerak ke luar. Ia bukan pusat yang bersifat menarik atau gerak ke dalam (sentripetal). Diri manusia hanyalah bagian dari percikan Cahaya Ilahi. Ia hanya dititipi cahaya sebagai kekuasaan untuk menata dan memelihara semesta. Metafor “buana pancer tengah”, sekaligus Diri berarti “buana” atau jagat kecil, yang dibandingkan dengan pemangku sejati kekuasaan atas semesta, Jagat Besar. Tugas menata dan mengelola semesta beserta isinya bisa terungkap dengan permainan kata “dari belakang ke depan”. Metafor “buana pancer tengah” bisa dibaca sebagai “tengah pancer buana”. Diri mejadi “tengah” yang menerangi (pancer) jagat (buana). Inilah makna spiritual dari “Diri”. Diri merupakan topologi holistik yang merangkum unsur badan dan jiwa, yang menghubungkan semesta dengan Yang Kuasa. Karena itulah, “Diri” menjadi pokok berpikir yang selalu berulang. Demikian pentingnya, “Diri” menjadi ukuran dalam pembelajaran dan penilaian. Ukuran pembelajaran dilakukan dengan “membaca alam” dan mengekspresikan hasil pembelajaran (membaca alam) dengan perilaku sehari-hari. Dalam konteks inilah “Batu” pada situs Nagara Padang dimengerti sebagai sarana pembelajaran. Permainan aksarFalsafah Diri Situs Gunung Padang By Raden Wiraatmadja in ATLANTIS INDONESIA (AI) · Edit Doc · Delete Situs gunung padang; Situs Nagara Padang menyiratkan perjalanan hidup manusia, tidak hanya badaniah tetapi juga rohaniah. Perjalanan lahir dan batin ini mengisyaratkan proses pencapaian manusia yang manusiawi. Falsafah kemanusiaan di tanah Sunda membedakan “jalma” (jelema) dengan “manusa”. Kata pertama bermakna semenjak lahir seseorang baru “menjelma” menjadi mahluk. Ia belumlah manusia seutuhnya. Dia masih harus menjalani pendidikan yakni pembentukan dan pengembangan diri lahir dan batin. Kata kedua menjelaskan kondisi manusiawi bagi seseorang. Kondisi manusiawi dalam kata “Manusa” dijelaskan dengan hakikat “Kamanusaan”. Hakikat ini berisi tiga keterarahan: “Kami” atau kepada Yang Maha Kuasa pemberi kehidupan, “Kama” kepada orangtua sebagai “sebab” keberadaan (cukang lantaran) dan “Nusa” atau kepada alam sebagai sesama mahluk dalam kehidupan. Ketiga keterarahan di atas menggambarkan secara kodrati manusia mampu mewujudkan “kasampurnaan”. “Kasampurnaan” dalam konteks ini lebih berarti tugas untuk memelihara dan menata dirinya, sesama manusia, alamnya berdasarkan kekuasaan yang dititipkan kepadanya oleh Yang Maha Kuasa. Tugas itu diemban pula karena konstelasi kehidupan dalam semesta sudah dan selalumenyempurnakan manusia. Kasampurnaan memang mengandaikan kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya. Kelebihan itu justru menjadi amanat dan mandat yang sewajarnya diwujudkan karena kodratnya. Amanat dan mandat ini diberi wujud keutamaan, sikap hidup, dan perilaku mulia . Perjalanan Menemukan Diri Perjalanan kehidupan seperti ini tertuang dalam peziarahan di Gunung Padang. Perjalanan di Gunung Padang menyiratkan penemuan jatidiri dan mengalami “gumulung” dengan Yang Maha Kuasa dan Semesta. Perjalanan atau “nyucruk galur” tersebut digambarkan dalam wujud (tanggara), nama (ungkara) dan makna (uga) dari tiap-tiap batu di Gunung Padang. Batu menyatakan “Baca” dan “Tulis”. Manusia dianjurkan membaca semesta dan membaca dirinya sendiri. Muara dari “membaca alam dan diri” ialah menuliskannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Berkaitan dengan proses penemuan diri tersebut berikut ini penjabaran tanggara, ungkara dan uga setiap batu. 1. Mata Air Cikahuripan Wujud (tanggara): mata air gunung. Nama (ungkara): Cikahuripan Uga (uga): Mata air gunung sering diibaratkan air susu ibu, cai nyusu. Air sebagai sumber dan asal kehidupan manusia (kondisi dalam rahim janin hidup dari dan dalam cairan. Hampir seluruh tradisi di muka bumi ini meyakini manusia berada dalam kondisi yang bersih. Maksudnya, bersih dalam arti steril; dan secara metaforik berarti suci atau dalam istilah keagamaan tanpa dosa. Karena itu, manusia selayaknya senantiasa membersihkan diri dengan kembali ke air. Air tidak hanya membersihkan tubuh atau wadah. Tetapi juga air membersihkan isi atau pikiran dan rasa. Dalam kondisi bersih itu manusia mengalami kehidupan untuk memulai perjalanan spiritualnya. Membersihkan diri dengan mata air Cikahuripan atau cai nyusu, bermakna bahwa kehidupan memiliki awal, manusia berasal dari air (sagara). Kesadaran akan awal membawa penyadaran akan tujuan kehidupan. Hidup mempunyai tujuan, dan karena tujuan itu lahirlah alasan untuk menghidupi hidup itu sendiri. 2. Lawang Saketeng Tanggara: Gapura dengan 9 anak tangga. Ungkara: Lawang Saketeng, atau uga: Gapura ini menyimbolkan penyadaran keberadaan Diri seseorang dan keterkaitannya dengan Semesta dan Yang Kuasa. Keterkaitan ini disadari melalui doa pembukaan di gapura. Rangkaian doa ini menunjukkan bahwa seseorang selalu berkaitan dengan para leluhur (karuhun, orangtua, kasepuhan), Semesta dan Yang Maha Kuasa. Keterkaitan itu disimbolkan dengan 9 anak tangga memasuki situs Nagara Padang. Angka 8 mewakili setiap penjuru mata angin yang, dan 1 ialah inti dari kehidupan yakni Yang Maha Kuasa. Doa pembukaan bertujuan juga untuk mendoakan orangtua dan para leluhur, dan memohon doa mereka untuk perjalanan dan penemuan hakikat diri (tekad). Seseorang mendoakan orangtua dan leluhur kepada Yang Kuasa agar amal bakti yang mereka lakukan sepanjang hidup menjadi keharuman bagi keturunannya. Keharuman bagi keturunan sekaligus juga mengharumkan nama Yang Kuasa. Orangtua dan leluhur (karuhun) dan semesta akan menjadi perantara yang menghantar seseorang untuk mengungkap jatidiri dan hakikat diri. 3. Palawangan Ibu Tanggara: Susunan bebatuan membentuk celah Ungkara: Batu Palawangan ibu Uga: Batu ini menjadi simbol untuk rahim ibu. Keberadaan manusia dan perjalanan hidupnya diawali dengan kelahiran. Kelahiran juga mengingatkan seseorang pada awal dan tujuan hidup. Dengan kelahiran lalu setiap orang memiliki tugas yang harus dikerjakan. Ini nanti berkaitan dengan upaya menemukan dan menjalani takdir. Batu ini pun menandai kelahiran baru bagi seseorang yang memiliki visi dan misi tertentu. Kelahiran baru penting supaya ia menjalani hidup sebagai insan yang mempunyai semangat dan paradigma baru mengenai kehidupan. Ini mempengaruhi bagaimana kemudian kita menyadari bahwa hidup itu sendiri selalu menjadi langkah baru bagi setiap orang. 4. Batu Paibuan Tanggara: Batu megalitik besar dan batu bedak Ungkara: Batu Paibuan, atau Batu pengasuhan Ibu untuk si jabang bayi. Pada situs ini terdapat juga batu bedak, yang menjadi tanda bagi perawatan ibu kepada anaknya. Uga: Batu ini mengingatkan seseorang pada pengasuhan ibu yang diterimanya pada saat kelahiran, dan pengasuhan ibu yang dialaminya setelah ia “lahir baru”. Pengasuhan ibu berhubungan dengan pendidikan rasa. Rasa penting ditumbuhkan karena kepekaan dan kesadaran akan kehidupan itu sendiri berasal dari kemampuan ini. Ketika rasa berkaitan dengan pikiran, hasilnya ialah pertumbuhan peradaban, manusia yang berbudaya. Pengasuhan rasa dikaitkan dengan pendidikan pikiran. Pendidikan pikiran merupakan bagian dari Ayah. Pendidikan pikiran berkaitan dengan penanaman ilmu dalam artian kemampuan teknis dan pengetahuan umum mengenai kehidupan. Pendidikan Ayah berikaitan dengan derajat martabat kemanusiaan. Seseorang belajar mengenal rasa dan pikiran melalui perilaku orangtuanya. Melalui pendidikan Bapak dan Ibu anak mengenal juga prinsip dan keutamaan melalui teladan. Dengan demikian, anak pun mengalami bahwa prinsip dan keutaman hidup merupakan kekuatan kodrati. Artinya keutamaan dan prinsip sudah mendarah daging dalam tubuh dan jiwa manusia. Jika orangtua menampilkan keutamaan dan prinsip dalam perilaku sejak dini, anak mempelajari kemanusiaan baik sebagai wujud penyempurnaan diri setiap orang maupun sebagai medan perjumpaan dengan Yang Kuasa. 5. Panyipuhan Tanggara: Lempeng batu pipih mirip besi yang siap ditempa dan dibentuk. Ungkara: Batu Panyipuhan Uga: Simbol untuk tempat pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang dapat mengalami pengembangan dan pembentukan ilmu, watak, karakter dan perilaku dari pendidikan formal: sekolah, madrasah atau pesantren. Seseorang mengasah ilmu, mengolah fisik, belajar membentuk watak dan karakter, belajar memperlakukan keutamaan dan prinsip-prinsip hidup dalam pergaulan sehari-hari di sekolah. Seseorang akan belajar mengenal kekuatan kodrati dalam dirinya ketika dia memperlakukan hal-hal yang dipelajari di atas. Kekuatan itu berasal dari Yang Kuasa, dan diberikan agar manusia bertindak sebagai pengemban kekuasaan tersebut dalam menyempurnakan semesta ini. 6. Poponcoran Tanggara: Susunan batu yang membentuk lorong yang bisa dilalui tubuh manusia. Batu ini mengarahkan orang ke posisi lebih tinggi Ungkara: Batu Panyipuhan. Susunan batu ini. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk ujian dan kelulusan. Setiap orang pada saatnya untuk diuji. Jika seseorang sudah menggali ilmu, mengembangkan dan membentuk diri: watak, karakter dan perilaku, ia harus melewati tahap ujian akhir. Jika ia dapat melewati ujian akhir ini, ia lulus dari sekolah, madrasah atau pesantren. Artinya, ia menyelesaikan tahapan penggemblengan fisik dan mental. Pendidikan telah dialami secara lengkap: pendidikan pikiran, rasa dan tubuh. 7. Kaca Saadeg Tanggara: Batu ini berbentuk vertikal-datar. Pada batu ini seolah-olah seseorang bercermin.. Ungkara: Batu Kaca Saadeg. Uga: Batu ini mengisyaratkan saat bercermin diri: mengingat identitas dan tujuan hidup: “siapa saya?”; “apa tujuan hidup ini?” (visi); “apa keinginan saya dalam hidup?” (misi). Proses ini disebut menerawang diri (narawang). Refleksi diri untuk menentukan tujuan (visi) dan keinginan (misi) dalam hidup. Visi dan misi membantu seseorang menyempurnakan diri, atau mewujudkan kemanusiaan dalam dirinya. Karena itu, Visi dan misi hidup merupakan tugas yang harus dipenuhi sebagai seorang manusia yang manusiawi. Jika sudah menentukan tujuan dan keinginan, tekad harus ditetapkan untuk melangkah selanjutnya. 8. Gedong Peteng Tanggara: Batu menyerupai gua yang gelap. Lokasinya sendiri terletak di bagian bawah dan tertutup pohon rimbun. Lokasi ini menyebabkan batu ini tidak banyak terkena sinar matahari, atau gelap. Kegelapan inilah yang kemudian menjadi nama, atau peteng. Ungkara: Batu Gedong Peteng. Uga: Batu ini merupakan simbol untuk diri yang masih gelap (peteng) dan ingin mendapatkan penerangan atau petunjuk untuk menapaki hidup berdasarkan karir yang diinginkan. Setiap orang harus menentukan karir dalam bentuk pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Karir akan membawa orang merealisasi tujuan (visi) dan keinginan (misi) pribadi. Ini penting agar seseorang yang baru saja menyelesaikan tahap pendidikan dapat terus mengembangkan ilmu, watak, karakter dan perilaku. Proses pemanusiaan masih terus terjadi. 9. Karaton Tanggara: Karaton atau Istana Ungkara: Batu Karaton. Uga: Istana menyimbolkan kedudukan, dan kewibawaan seseorang berdasarkan tugas yang diembannya. Jika seseorang bekerja berdasarkan karir yang dipilihnya, ia akan mengalami promosi atau kenaikan tingkat keahlian. Seseorang juga dapat mendapatkan kedudukan berdasarkan pilihan bersama siapa ia akan menjalani hidupnya, yakni membentuk keluarga. Kedudukan berdasarkan karir atau kenaikan tingkat keahlian ditentukan berdasarkan baik pewujudan ilmu dan keahlian maupun watak, karakter dan perilaku. Entah ia berkerja mandiri atau bekerja di bawah pimpinan orang lain, entah sebagai pekerja atau sebagai pemimpin pekerjaan sehari-hari akan mengasah ilmu, keahlian dan perilaku. Berdasarkan kedudukan ini setiap orang memiliki tugas masing-masing. Demikian juga berlaku untuk kedudukan dalam keluarga. Entah bapak entah ibu memiliki tugas yang sejajar dalam keluarga. 10. Kutarungu Tanggara: Batu ini menjulang tinggi, menyerupai telinga. Ungkara: Batu Kutarungu. Nama Kutarungu mengacu pada tempat (kuta) dan pendengaran (rungu). Juru kunci menghubungkannya dengan telinga tubuh dan telinga batin. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap hati yang teguh seperti digambarkan oleh Batu yang menjulang tinggi. Sikap hati yang teguh akan mendengarkan suara hatinya, dan tidak mendengarkan suara-suara yang dapat membelokkan jalan yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan misi pribadi. Kearifan Sunda menekankan pentingnya mengenali kemampuan pancaindra bagi kehidupan. Salah satu yang penting ialah telinga. Batu bagi pendengaran ini bermakna kemampuan bertindak sesuai dengan suara hati. Suara hati atau pusat diri menuntun seseorang untuk teguh pada pendirian berdasarkan prinsip. Seseorang yang telah menjalankan karir sesuai dengan tugas dan kedudukannya diandaikan memiliki prinsip yang teguh, atau teguh pada kebenaran yang diyakininya Ia tidak mudah dihanyutkan oleh suara-suara (pendapat, gosip, isu, fitnah, kabar-kabar lainnya) yang dapat membelokkannya dari jalan menuju visi dan misi. Jika seseorang berpegang pada suara hatinya (prinsip dan keutamaan hidup), dia dapat membedakan mana kecenderungan konstruktif (kebaikan), mana yang destruktif (kejahatan). Seseorang diharapkan mampu mengolah informasi yang didengarnya (diterimanya) sebelum bereaksi. Dengan kata lain, seseorang diajak untuk bertindak bijak, menghindari sikap ceroboh dan sembrono, asal memberikan tanggapan, dan mengikuti kecenderungan jahat dalam dirinya. 11. Bumi Agung Tanggara: Batu besar yang menjulang tinggi. Batu ini harus didaki dari satu sisi dan turun pada sisi lain yang berhubungan dengan batu besar berikutnya, Batu Korsi Gading. Dari puncak batu ini bisa terlihat lansekap tatar Bandung di segala penjuru. Agung menandai tanah, bangsa dan juga nagara atau Diri. Agung berkonotasi dengan mulia. Ungkara: Batu Bumi Agung. Uga: Batu ini menyimbolkan sikap menjunjung tanah air atau bela bangsa. Kesadaran bahwa pemilik kehidupan bukanlah diri pribadi, tetapi Yang Kuasa berkonsekuensi kesadaran untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa (membela bumi). Tanah air dan bangsa meliputi semesta berikut benda dan mahluk yang mengisinya. Artinya, seseorang mempunyai tugas untuk membaktikan keberhasilannya untuk segenap mahluk dan semestanya. Membela bangsa sama saja artinya dengan membela diri sendiri. Maksudnya memelihara dan menjaga tubuh sebagai “bumi” bagi pikiran dan rasa. Menata tubuh berimplikasi pada penataan pikiran dan rasa juga. Tujuan penataan ini ialah menjadikan tubuh, pikiran dan rasa mediasi untuk memancarkan kekuasaan Yang Maha Kuasa dalam merawat dan menata Semesta. Membela bangsa dan tubuh disebut amal ibadah manusia kepada Tuhan dan Semesta. Prinsip-prinsip hidup, keutamaan yang telah dihayati bersama dengan tugas–melalui karir atau pekerjaannya — ditujukan untuk menata, memelihara dan mengembangkan setiap jenis kehidupan. Di sinilah prinsip silih asih dan silih asuh hendak diwujudkan di tengah-tengah semesta beserta isinya. 12. Korsi Gading Tanggara: Batu ini berbentuk kursi. Gading mengisyaratkan tahta. Seseorang yang menaiki Batu Bumi Agung, sebelum turun harus menyeberang ke Batu ini untuk duduk di sini. Ungkara: Batu Korsi Gading. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk membaktikan kekuasaan berdasarkan tugas yang diemban untuk merawat dan menata diri sendiri, tanah air dan bangsa, atau Semesta. Masih berkaitan dengan Bumi Agung, tempat ini bermakna untuk membaktikan kedudukan berdasarkan tugas untuk menjunjung tanah air dan membela bangsa. Dharma seseorang termasuk membaktikan kedudukan bagi nusa dan bangsa. Kedudukan memunculkan kekuasaan atau kemampuan menata dari dalam diri seseorang. Kekuasaan justru semakin berarti jika diwujudkan untuk menolong dan membantu sesama, atau secara luas memelihara dan mengembangkan kehidupan. Dengan kata lain, semakin berkuasa seseorang semakin ia dituntut oleh kodratnya sendiri untuk mengungkapkan belas kasih (welas asih). 13. Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Tanggara: batu berbentuk tugu. Di atas tugu itu terdapat tatahan ibu jari. Ungkara: Batu Pakuwon Eyang Prabu Siliwangi Uga: Batu ini menjadi simbol untuk mensyukuri (nuhunkeun) prinsip dan keutamaan silihwangi pada Yang Kuasa. Batu ini masih berhubungan dengan Batu Bumi Agung, dan Batu Korsi Gading. Prinsip silih asih, silih asah dan silih asuh dan prinsip welas asih atau rohman rohim berkaitan dengan keutamaansilihwangi. Silihwangi berarti saling menghormati, saling menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Setiap orang tanpa pandang bulu memiliki tugas untuk saling hormat dan saling menjunjung martabat dan harkat kemanusiaan. Karena itu, seseorang perlu mensyukuri (nuhunkeun) keutamaan ini kepada Yang Kuasa karena secara kodrati manusia sudah dititipi kemampuan ini dan memangmampu merealisasi keutamaan ini dalam hidup sehari-hari. Mensyukuri berarti mengingat dan memperlakukan keutamaan itu berdasarkan keyakinan yang dipegang. 14. Lawang Tujuh Tanggara: Pintu menunjukkan jalan atau jalur. Tujuh mengarah pada jumlah hari dalam satu minggu. Ungkara: Batu Lawang Tujuh atau Pintu Tujuh. Uga: Batu ini menyimbolkan perjalanan menempuh “jalur” hidup yang sudah ditentukan berdasarkan waktu kelahiran (7 hari). Setiap orang mempunyai “jalan”nya masing-masing untuk mewujudkan visi dan misinya. Jalan itu sudah diberikan berdasarkan hari kelahiran. Tugas manusia untuk menjalani jalur itu berdasarkan pada visi dan misinya. Jalur tersebut akan mengembalikan kita kepada Yang Kuasa, yang menjadi pusat dan bersemayam dalam diri manusia. 15. Padaringan (leuit Salawe Jajar) Tanggara: Jajaran batu megalitik yang melingkar. Ungkara: Batu Padaringan. Padaringan berarti juga leuit atau lumbung padi. Lumbung padi itu digambarkan berjumlah 25 dan letaknya sejajar. Uga: Batu ini menyimbol lumbung padi (leuit atau padaringan) menandai kesejahteraan manusia dan pencapaian kepenuhan hidup sebagai manusia. Kesejahteraan itu hendak dialami nuansa kebersamaan. Nuansa kebersamaan ini digambarkan dengan posisi sejajar. Di sinilah keutamaan Sapajajaran dikenali. Adalah tugas seseorang yang sudah mencapai keberhasilan dan kedudukan untuk menyejahterakan bumi atau semesta beserta isinya. Menyejahterakan bumi dan seisinya ibarat mengisi lumbung, atau menyediakan sumber kehidupan bagi tanah air dan bangsa. Visi dan misi seseorang tercapai jika ia mampu menjadi pengemban kekuasaan Ilahi untuk membagikan kesejahteraan bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Ia mengikuti peran Ibunya yang menyusui dan mengasuh anak tanpa memandang anak ini kelak berbuat kebaikan atau kejahatan. Membagikan kesejahteraan bagi bumi dan sesama menandai keadilan. Prinsip keadilan mengejawantahkan keutamaan sapajajaran. Pada dasarnya manusia tidak mengenal pembedaan berdasarkan status lahir. Berdasarkan kodratnya manusia dalam keragamannya sejajar satu sama lain, juga berdasarkan kodratnya, manusia pun sejajar dengan mahluk lain karena sama-sama ciptaan. Demikian juga kesejajaran itu dihayati dalam relasi manusia dengan alam semesta. 16. Puncak Manik Tanggara: Tanah datar yang dikelilingi bebatuan besar membentuk cincin. Ungkara: Puncak Manik. Manik berarti wadah. Dalam wadah itu terjadi persatuan antara Diri dengan Semesta dan Yang Kuasa. Persatuan itu digambarkan pula dengan kembalinya manusia ke asalnya ketika ia mencapai tujuannya. Uga: Batu ini menjadi simbol untuk pencapaian dan perwujudan visi – misi pribadi serta kembalinya atau bersatunya manusia dengan Semesta dan Yang Kuasa. Usaha mewujudkan visi dan misi mengenal batas. Batas itu ialah puncak keberhasilan dan kedudukan. Puncak berarti sudah tercapai visi dan misi atau visi dan misi “sudah di tangan”. Imperatif berikutnya ialah segeralah menggunakan kedudukan dan keberhasilan, atau kemampuan untuk beramal ibadah, berbakti dan berbagi (“Tereh make salawasna”) Kemampuan ini yang disebut mewujudkan manusia yang manusiawi, yang bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Puncak manik juga berarti kembalinya seseorang pada jatidirinya yang asali. Jatidiri setiap manusia ialah persatuan dengan asal dan tujuan hidup: Yang Kuasa, “Sang Diri”. Peristiwa ini kemudian diberinama “pulang”. Inilah sebenarnya pencapaian tertinggi usaha dan kekuasaan manusia. Keunggulan dan kewibawaan pada akhirnya akan kembali. Penutup Situs Nagara Padang mengandung permainan aksara dan bunyi pada kata “Nagara”. Kata tersebut berupa siloka (teka-teki) yang membuat pembaca berpikir tentang makna. Jika “na ga ra” dibaca seperti tertulis, maka alam pikir bahasa Indonesia memberinya makna pada pelembagaan atau organisasi kolektivitas manusia berdasarkan tujuan yang sama dan dibangun untuk kesejahteraan bersama (bonum commune). Makna “nagara” atau negara seperti ini tidak akan berarti banyak dalam situs ini, juga untuk pemahaman kehidupan dalam budaya Sunda. Kata “Na ga ra” harus dibaca dari belakang “Ra ga na”. Kata tersebut dilengkapi dengan kata bantu “dina” supaya lebih mengangkat makna terdalam dari nama situs tersebut. Lengkapnya menjadi “Dina Ragana”. Jelaslah apa yang dimaksud: “di dalam raga” atau badan. Teka teki terjawab: jiwa, atau yang memberi gerak dan langkah pada raga. Jiwa menjadi isi bagi badan atau wadah. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan tidak berkedudukan secara hirarkis. Jiwa memancarkan kemampuannya melalui tubuh. Jiwa menggantungkan diri secara simbiotik saling menghidupi dengan badan. Badan dalam pemahaman demikian tidak berarti penjara bagi jiwa. Badan menyalurkan kemampuan jiwa. Badan mencerminkan kualitas jiwa yang dikandungnya. Badan memiliki kedudukan penting karena wadah ialah cermin bagi isi. Keduanya “menjadi kesatuan yang saling melengkapi dengan kekhasan, yakni kedudukan dan tugasnya masing-masing. Kesatuan ini tampil diungkapkan dengan metafor “Diri”. “Diri” merupakankesatuan jiwa-badan. Tanpa kesatuan dalam “diri” hidup manusia tidak berarti. Metafor “Diri” pun merupakan permainan suku kata dari “Da” dan “Ra”. “Da” bermakna semesta dan “Ra” mengarah pada cahaya. Permainan suku kata atau aksara Sunda ini menempatkan “Diri” sebagai “Cahaya Semesta”. Makna permainan kata berdasarkan aksara ini menempatkan “diri” di tengah-tengah. “Posisi tengah” digambarkan dengan metafor puitik “Buana Pancer Tengah”. “Tengah” memang sangat mudah diartikan “pusat”. Secara diagramatik, tengah selalu mengacu pada pusat. Posisi “Tengah” dalam konteks buana pancer tengah atau diri sebagai cahaya semesta merujuk pada makna “di antara”. Posisi ini berfungsi menjaga keterjalinan (bukan keseimbangan) antarunsur yang berada di sekitarnya. Unsur-unsur itu tidak merujuk dan bergantung pada posisi tengah. Rujukan dan ketergantungan unsur pada posisi tengah hanya akan menunjukkan diri sebagai pusat semesta. Dalam pemahaman ini, diri adalah cahaya semesta, yang menerangi atau gerak ke luar. Ia bukan pusat yang bersifat menarik atau gerak ke dalam (sentripetal). Diri manusia hanyalah bagian dari percikan Cahaya Ilahi. Ia hanya dititipi cahaya sebagai kekuasaan untuk menata dan memelihara semesta. Metafor “buana pancer tengah”, sekaligus Diri berarti “buana” atau jagat kecil, yang dibandingkan dengan pemangku sejati kekuasaan atas semesta, Jagat Besar. Tugas menata dan mengelola semesta beserta isinya bisa terungkap dengan permainan kata “dari belakang ke depan”. Metafor “buana pancer tengah” bisa dibaca sebagai “tengah pancer buana”. Diri mejadi “tengah” yang menerangi (pancer) jagat (buana). Inilah makna spiritual dari “Diri”. Diri merupakan topologi holistik yang merangkum unsur badan dan jiwa, yang menghubungkan semesta dengan Yang Kuasa. Karena itulah, “Diri” menjadi pokok berpikir yang selalu berulang. Demikian pentingnya, “Diri” menjadi ukuran dalam pembelajaran dan penilaian. Ukuran pembelajaran dilakukan dengan “membaca alam” dan mengekspresikan hasil pembelajaran (membaca alam) dengan perilaku sehari-hari. Dalam konteks inilah “Batu” pada situs Nagara Padang dimengerti sebagai sarana pembelajaran. Permainan aksara “Baca” dari “ba” dan Tulis dari “tu” menunjukkan kesinambungan antara ekspresi pikiran dan rasa melalui tubuh. Kesinambungan penalaran, emosi dan motivasi ini mendorong orang untuk memperlakukan apa saja yang “dibacanya” dari semesta. Ukuran penilaian perilaku dikembalikan pada “Diri”. Karenanya dikenal istilah “ngaji diri” agar penilaian perilaku tidak dilakukan tanpa dasar. Istilah “ngaji diri” mengukur perilaku diri ke dalam dahulu, sebelum menilai orang lain, atau menilai ke luar. Apalagi penilaian tentang baik dan buruk, diri harus menjadi asal refleksi sebelum melontarkan keputusan mengenai perilaku dan kehidupan sesama. Tuntutan “ngaji diri” ini membuat seorang Sunda yang kerap berefleksi bersikap diam menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang cenderung destruktif; atau ditanggapi dengan senyum. Sikap “diam” bukan berarti tidak tanggap. Sikap diam juga menunjukkan bahwa kepekaan membaca situasi atau konteks. Konteks akan membantu seseorang menentukan dan menilai sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Awalan “ngaji diri” bermuara pada sikap jembar atau padang. Sikap padang mengarah pada kemampuan memadukan berbagai macam unsur yang mengondisikan sebuah peristiwa terjadi. Pemaduan ini memerlukan wawasan: mencermati secara luas dan detil keragaman pembentuk sebuah peristiwa. Karena itu kemampuan “ngaji diri” untuk menilai peristiwa atau perilaku berkaitan dengan pengalaman mengolah diri dan menata diri, membiasakan diri menjadi terang. Karena itu, kembali ke “Diri” justru bukan tanda relativisme berlaku dalam khazanah Sunda. Kembali ke “diri” sebagai terang batin justru menghubungkan manusia, per pribadi dengan lingkungan di sekitarnya. http://www.kalangsunda.net/situsgunungpadang.htm http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1611314181352&set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=3&theater https://sasananuswantara.wordpress.com/2011/03/08/falsafah-diri-dan-kemanusiaan-di-nagara-padang/ http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=1 Sekilas Gunung Padang:Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Penemuan Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan. ^ a b Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai. kapanlagi.com Edisi 08 September 2005^ a b Jafar M. Sidik. Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang. Antara daring. Edisi 17 September 2009^ Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang?^ Budi Brahmantyo. Keagungan Situs Megalitik Gunung Padang. Pikiran Rakyat. Edisi 20 Januari 2006.a “Baca” dari “ba” dan Tulis dari “tu” menunjukkan kesinambungan antara ekspresi pikiran dan rasa melalui tubuh. Kesinambungan penalaran, emosi dan motivasi ini mendorong orang untuk memperlakukan apa saja yang “dibacanya” dari semesta. Ukuran penilaian perilaku dikembalikan pada “Diri”. Karenanya dikenal istilah “ngaji diri” agar penilaian perilaku tidak dilakukan tanpa dasar. Istilah “ngaji diri” mengukur perilaku diri ke dalam dahulu, sebelum menilai orang lain, atau menilai ke luar. Apalagi penilaian tentang baik dan buruk, diri harus menjadi asal refleksi sebelum melontarkan keputusan mengenai perilaku dan kehidupan sesama. Tuntutan “ngaji diri” ini membuat seorang Sunda yang kerap berefleksi bersikap diam menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang cenderung destruktif; atau ditanggapi dengan senyum. Sikap “diam” bukan berarti tidak tanggap. Sikap diam juga menunjukkan bahwa kepekaan membaca situasi atau konteks. Konteks akan membantu seseorang menentukan dan menilai sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Awalan “ngaji diri” bermuara pada sikap jembar atau padang. Sikap padang mengarah pada kemampuan memadukan berbagai macam unsur yang mengondisikan sebuah peristiwa terjadi. Pemaduan ini memerlukan wawasan: mencermati secara luas dan detil keragaman pembentuk sebuah peristiwa. Karena itu kemampuan “ngaji diri” untuk menilai peristiwa atau perilaku berkaitan dengan pengalaman mengolah diri dan menata diri, membiasakan diri menjadi terang. Karena itu, kembali ke “Diri” justru bukan tanda relativisme berlaku dalam khazanah Sunda. Kembali ke “diri” sebagai terang batin justru menghubungkan manusia, per pribadi dengan lingkungan di sekitarnya. http://www.kalangsunda.net/situsgunungpadang.htm http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1611314181352&set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=3&theater https://sasananuswantara.wordpress.com/2011/03/08/falsafah-diri-dan-kemanusiaan-di-nagara-padang/ http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1611192698315.67817.1791200877&type=1 Sekilas Gunung Padang:Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Penemuan Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat “kabuyutan” (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.

Referensi:

^ a b Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai. kapanlagi.com Edisi 08 September 2005^ a b

Jafar M. Sidik. Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang. Antara daring. Edisi 17 September 2009

^ Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang?

^ Budi Brahmantyo. Keagungan Situs Megalitik Gunung Padang. Pikiran Rakyat. Edisi 20 Januari 2006.

Muhammad Adalah Nabi Terakhir Yang Ditunggu Umat Hindu?




Nabi Muhammad adalah Nabi yang ditunggu umat Hindu? Kalimat itu pasti mengejutkan bagi kebanyakan umat Islam maupun umat Hindu, bahkan mungkin bagi umat di luar kedua agama itu. Betapa tidak, syariat dari dua agama itu sangat jauh berbeda. Mungkinkah Nabi Muhammad adalah Nabi dari kedua agama itu?

Jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah juga nabi dari umat Yahudi & umat Kristen, mungkin banyak dari kalangan umat Islam akan setuju, mengingat dalam Al-Qur’an memang terdapat ayat-ayat yang menyatakan kalau kedatangan Nabi Muhammad sebenarnya sudah diberitakan dalam kitab-kitab suci pendahulunya, seperti Taurat & Injil. Lima kitab awal dari kitab Perjanjian Lama Kristen adalah apa yang oleh umat Yahudi diakui sebagai Torah/Taurat/Pentatouch, yaitu kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Sedangkan 4 kitab awal dari kitab Perjanjian Baru Kristen diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Injil, yaitu kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Sekalipun umat Islam menyatakan bahwa Taurat & Injil yg diturunkan pada nabi Musa & Nabi Isa adalah bukan yg diakui oleh umat Yahudi & Kristen sekarang, atau setidaknya sudah berubah/diubah dari aslinya, banyak para pakar ilmu Kristologi yang menyatakan kalau dalam Taurat & Injil yg diakui umat Yahudi & Kristen sekarang inipun masih terdapat sisa-sisa ramalan kedatangan Nabi Muhammad (sebenarnya sangat menarik untuk menampilkan argumentasi pembuktiannya, tapi hal itu bukan topik utama dari tulisan ini).

Jika umat Islam mempercayai ramalan kedatangan nabi Muhammad dalam kitab Taurat & Injil, bagaimana dengan kitab suci umat Hindu? Mungkinkah Nabi Muhammad Saw adalah seorang Nabi yang kedatangannya sudah diramalkan oleh kitab suci umat Hindu? Itulah yang akan kita bahas di sini.

Sebenarnya dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dapat dijadikan acuan bahwa Nabi Muhammad mungkin saja adalah juga seorang Nabi yang ramalan kedatangannya terdapat dalam kitab-kitab suci umat agama lain, diantaranya :

1. Dalam surat Asy-Syu’ara(26) ayat 196 : “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu”. Jadi dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an juga terdapat wahyu Tuhan

2. Dalam surat Fatir(35) ayat 24 dinyatakan bahwa tidak ada suatu kaum di masa lalu tanpa seorang pemberi peringatan

3. Dalam surat Al-Ahzab(33) ayat 40 dinyatakan bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan dan merupakan penutup para nabi (utusan terakhir)

4. Dalam surat Al-Anbiya(21) ayat 107 dinyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak diutus melainkan untuk seluruh semesta alam.

5. Dalam surat Saba’ (34) ayat 28 dinyatakan bahwa Tuhan mengutus Muhammad untuk seluruh umat manusia, pemberi kabar gembira, dan peringatan akan dosa, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Juga dalam hadits Bukhari vol 1. dalam kitab Shalat bab 56 hadits no 429, nabi Muhammad bersabda :

“Semua rasul yg diutus sebelumku hanya berlaku untuk umat/bangsanya saja, tapi aku diutus untuk semua umat manusia”.

Sekarang akan kita lihat dalam kitab suci agama Hindu. Ada banyak kitab dalam agama Hindu yang diakui sebagai kitab suci mereka. Dari semuanya yang dianggap paling suci adalah kitab Veda (Weda). Bila diantara kitab-kitab itu ada yang bertentangan, maka yang harus menjadi rujukan utama adalah Weda yg juga masih terbagi lagi menjadi beberapa kitab. Kitab-kitab lain selain Weda adalah : Upanishad, Smriti, Dharma Sastra, Bhagavat Gita, Puranas, dll.

Ayat-ayat ramalan kedatangan Nabi Muhammad

Disebutkan dalam Bhavisa Purana –; dalam Pratisarag Parv III, Khand 3, Adhyay 3, Shalokas 10 to 27 :

“Aryadarma akan tampil di muka bumi ini. ‘Agama kebenaran’ akan memimpin dunia ini. Saya diutus oleh Isyparmatma. Dan pengikut saya adalah orang yang berada di lingkungan itu, yang kepalanya tidak dikucir, mereka akan memelihara jenggot dan akan mendengarkan wahyu, mereka akan mendengarkan panggilan sholat (adzan), mereka akan memakan apa saja kecuali daging babi, mereka tidak akan disucikan dengan tanaman semak-semak/umbi-umbian tapi mereka akan suci di medan perang. Meraka akan dipanggil “Musalaman” (perantara kedamaian).”

Kalau anda baca tulisan diatas dengan baik, maka anda akan melihat bahwa ciri-ciri dari pengikut agama kebenaran yg disebutkan adalah ciri-ciri yang umum terdapat pada umat Islam.

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yang mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.

- Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa. “Nars artinya orang, “sangsa” artinya “yang terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yang terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti : orang yang terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dg Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yang sama dengan Nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yang bisa berarti : pangeran kedamaian, dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yang akan dikalahkannya yang berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.

- Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yang naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.

- Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dengan Nabi agung umat Islam yaitu Nabi Muhammad SAW.

- Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yang terpuji. Nabi Muhammad yang juga dipanggil dengan nama Ahmad adalah berarti juga “orang yang terpuji” yang terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.

Beberapa ramalan lainnya :

- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21 : 6 dinyatakan bahwa di sana disebutkan dengan istilah : “akkaru yang artinya : “yang mendapat pujian”. Dia akan mengalahkan 10.000 musuh tanpa pertumpahan darah. Hal ini merujuk pada perang Ahzab yang mana Nabi Muhammad mengalahkan musuh yang berjumlah 10.000 orang tanpa pertumpahan darah.

- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21 : 7 dinyatakan bahwa Abandu akan mengalahkan 20 penguasa. Abandu juga berarti seorang yatim atau seorang yang mendapat pujian. Ini mengarah pada nabi Muhammad yang seorang yatim sejak lahir dan arti kata Muhammad/Ahmad yang berarti yang terpuji, yang akan mengalahkan kepala-suku-suku dari suku-suku di sekitar Makkah yg berjumlah sekitar 20 suku.

- Dalam Rigveda book 1 Hymn 53 : 9 nabi dipanggil dg sebutan “Suslama” yg artinya lagi-lagi adalah : orang yg terpuji yg merupakan arti dari nama Muhammad.

- Dalam Samaveda Agni Mantra 64 dinyatakan bahwa ia tidak disusui oleh ibunya. Hal ini persis dengan Nabi Muhammad yang tidak disusui oleh ibunya tapi oleh seorang wanita bernama Halimah.

- Dalam Samaveda Uttararchika Mantra 1500 dinyatakan bahwa Ahmad akan dianugrahi undang-undang abadi, yang jelas mengacu pada Nabi Muhammad yang akan dianugrahi kitab suci Al-Qur’an. Tapi karena orang India yang berbahasa sansekerta tidak paham kata Ahmad, maka diterjemahkan menjadi “a” dan “mahdi” yaitu “saya sendiri”, jadi diartikan “saya sendiri yang menerima undang-undang abadi”. Padahal seharusnya “Muhammad sendiri yang dianugrahi undang-undang abadi”.

Nabi Muhammad diramalkan dengan nama Ahmad pada banyak bagian dalam kitab-kitab Weda. Juga diramalkan pada tak kurang dari 16 tempat yang berbeda dalam kitab weda dg nama Narasangsa artinya adalah sama dengan arti dari nama Muhammad, yaitu “yang terpuji”.

Kalky Autar

Salah satu ramalan kedatangan nabi Muhammad yg sangat terkenal yang juga telah membuat seorang professor bahasa dari Alahabad University India mengajak kepada umat Hindu untuk segera memeluk agama Islam, adalah terdapatnya sebuah ramalan penting dalam kitab suci Hindu tentang kedatangan yang ditunggu-tunggu dari seorang Kalky Avtar (baca : autar). “av” artinya : turun. “tr” artinya melewati. Jadi arti kata Avtar adalah “diturunkan atau diutus untuk turun”. Kalky Avtar artinya adalah : “utusan terakhir”.

Pundit Vaid Parkash – sang professor (yang menulis buku berjudul “Kalky Avtar”), secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, karena menurutnya, sebenarnya Nabi Muhammad adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual dalam agama Hindu.

Disebutkan dalam Nashpropesy, Nabi Muhammad diramalkan dengan nama Kalky Avtar (Autar terakhir) dan Amtim Rishi. Sedangkan dalam kitab Puranas disebutkan tentang Kalky Autar dan kedatangannya. Diantara ayat-ayat yang menyebutkan adalah :

- Dalam Baghavata Purana Khand 12 Adhyay 2 Shloka 18-20 disebutkan dalam rumah Visnuyash akan dilahirkan Kalky Avtar yang diramalkan akan menjadi penguasa dunia, yang terkenal dengan sifat-sifatnya yang baik & menonjol. Dia akan diberi tanda-tanda. Dia akan diberi oleh malaikat sebuah kendaraan yang cepat. Dia akan menaiki kuda putih sambil memegang pedang. Dia akan mengalahkan orang-orang jahat dan dia akan terkenal di dunia.

- Dalam Baghavata Purana Khand 1 Adhyay 3 Shloka 25 disebutkan akan ada juru selamat di rumah Visnuyash

- Dalam Kalki Purana (2) : 4 disebutkan bahwa di rumah Visnuyash pemimpin - kampung Sambala akan lahir Kalki Avtar

- Dalam Kalki Purana (2) : 5 disebutkan bahwa dia akan datang bersama para sahabatnya (4 orang sahabat) mengalahkan orang-orang jahat

- Dalam Kalki Purana (2) : 7 disebutkan bahwa dia akan dijaga oleh malaikat di medan perang

- Dalam Kalki Purana (2) : 11 disebutkan bahwa dalam rumah Visnuyash dan dalam rumah Summati Kalki Autar akan lahir

- Dalam Kalki Purana (2) : 15 disebutkan bahwa dia akan lahir pada tanggal 12 bulan pertama Madhop

- Semua ramalan yg disebut diatas tadi tiada lain merujuk pada Nabi Muhammad SAW. Penjelasannya demikian :

- Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari Nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yang artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sebagai Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sebagai Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.

- Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yang sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yang dalam bahasa arab artinya juga orang yg setia.

- Sambala bahasa arabnya adalah tempat yang aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yang terkenal dengan nama “Darul Aman” yaitu tempat yang aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa Nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.

Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal

Sebagai Amtim Rishi (resi terakhir). Nabi Muhammad adalah juga nabi terakhir dari deretan nabi-nabi yang dikirim Tuhan seperti yang terdapat pada QS. Al- Ahzab : 40.

- Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.

- Dia akan memiliki sifat-sifat yang sangat mulia. Persis seperti nabi Muhammad seperti terdapat pada QS. Al-Qalam : 14 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.

- Kalki Autar akan diberi 8 kemampuan spiritual, yaitu : bijaksana, punya kendali diri, keturunan yg terhormat, punya pengetahuan wahyu, pemberani, perkataannya bertarget kurikulum, sangat dermawan, dan sangat ramah. Semuanya adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh nabi Muhammad

- Dia akan diberi kendaraan yg sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yang sangat cepat oleh Allah yg membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.

- Dia akan naik kuda putih dengan tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dengan menunggang kuda dan bertempur dengan memegang pedang dengan tangan kanannya.

- Dia akan menjadi penyelamat umat manusia. Dalam QS. Faatir(35) ayat 24 dan QS. Saba(34) ayat 28 disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa berita gembira & peringatan bagi seluruh umat manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dia akan menjadi pembimbing ke jalan yang benar. Nabi Muhammad hidup pada jaman jahiliyah yang penuh kegelapan dimana ia membawa umatnya ke jalan yang terang benderang.

- Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tahu ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu : Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

- Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr Nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah seperti tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125 : “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yg datang berturut-turut.”

Subhanallah..

Ternyata sekian banyak ayat tersebut (yang sebenarnya belum semuanya ditampilkan) yang meramalkan akan datangnya seorang nabi yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu, begitu cocok dengan gambaran Nabi Muhammad, umat Islam, dan sejarahnya. Mungkin saja ini juga merupakan pembuktian yang diberikan Allah bahwa Nabi Muhammad memang diutus Allah untuk seluruh umat manusia.

Hal ini juga dapat membuka diskusi yg menarik tentang agama Hindu, kitab suci umat Hindu, dan syariat-nya. Benarkah agama Hindu memang merupakan agama yang diturunkan oleh Allah jauh sebelum Nabi Muhammad lahir? Kalau ya, apakah berarti umat Hindu bisa disebut “muslim”, atau juga bisa disebut “ahlul kitab”? Bagaimana sesungguhnya ajaran agama Hindu itu, dan sesuaikah dengan ajaran Islam? Bagaimana pendapat anda sendiri? (rkh)

Referensi:

Dr. Zakir Abdul Karim Naik (“Persamaan Hindu dan Islam”)