Minggu, 01 April 2012

Gayatri Rajapatni, Tokoh di Balik Kemasyhuran Gajah Mada


KOMPAS IMAGES

Ilustrasi


Sejarawan Universitas British Columbia, Kanada, Earl Drake, yang pernah menjabat Duta Besar Kanada di Indonesia menggugah pemerhati sejarah nasional dengan menyodorkan kembali sejumlah tanda tanya yang luput dipahami orang.

Ia mempertanyakan, bagaimana Gajah Mada yang jelas rakyat kasta jelata bisa membuat keputusan-keputusan penting pada zamannya di Kerajaan Majapahit, seperti Perang Bubat yang menyakitkan masyarakat Sunda hingga kini, sampai ekspedisi internasional mencapai Afrika Selatan. Padahal, Gajah Mada sebagai patih harus tunduk tanpa syarat berada di tengah-tengah zaman di mana raja dipahami sebagai dewa absolut.

Earl Drake menyodorkan gagasan, kemunculan dan peran Gajah Mada dan perjalanan sejarah masa itu tak lain karena tindakan pengatur peran sebenarnya, yakni Gayatri Rajapatni. Sosok perempuan yang diyakini sebagai wajah di balik patung Prajna Paramita yang agung, misterius, dan sendu dari era ini.

Tentang Gayatri ini, Earl Drake melakukan riset pribadi di antara tugas-tugas diplomatiknya di Asia termasuk Indonesia, membangun mosaik yang lebih utuh perihal fase sejarah yang menarik ini.

Earl Drake menyusunnya dalam buku Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit terbitan Penerbit Ombak (Yogyakarta, 2012).

Gayatri, menurut Drake, ditemukan dan dibuktikan dalam argumen-argumen bukunya, merupakan tokoh perempuan yang jenius pada zamannya: seorang ratu rendah hati namun berwawasan tinggi, yang kemudian menyusun strategi untuk Majapahit hingga mencapai kejayaannya di era Hayam Wuruk. Pengaruhnya, termasuk dalam membimbing Gajah Mada. Visi Gajah Mada tak lain adalah pengaruh politik Gayatri.

Earl Drake membuktikan kebesaran Gayatri bisa ditunjukkan oleh jumlah kualitas bukti sejarah, termasuk puisi Prapanca yang nama aslinya Rangkawi Padelegan, padri tersohor tahun 1358, yang khusus memuja dan memberi penghormatan kepada Gayatri, ibu suri kerajaan.

Gayatri sang pemberi ilham, tak lain adalah mentor Gajah Mada, dan patut dipahami sebagai think tank di balik kebesaran Majapahit.

Earl Drake, yang pernah menjabat Direktur Eksekutif Bank Dunia dan pensiun sejak 1992, dijadwalkan akan hadir sendiri membahas bukunya dan keterpesonaannya terhadap sang Prajna Paramita yang sensual di Kampus Universitas Negeri Malang, Senin (2/4/2012) besok.

Bersamanya akan tampil sebagai pembahas arkeolog Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Deny Yudo Wahyudi.

kcm

Klimaks Bantahan Piramida Jawa Barat


google.com

Gunung Sadahurip yang diduga terdapat bangunan Piramida di Desa Sukahurip, Pangatikan, Garut, Jabar.


Bantahan tentang keberadaan piramida di dalam Gunung Padang dan Gunung Sadahurip Jawa Barat "mencapai titik klimaks" di Gedung Pusat Arkeologi Nasional Jakarta.

Pada Kamis (29/3/2012) sejumlah arkeolog, geolog, vulkanolog, astronom, bahkan speleolog (ahli gua) serta berbagai pakar disiplin ilmu lain bertemu Pusat Arkeologi Nasional untuk berdiskusi sekaligus mempertanyakan metode dan hasil penelitian Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba yang dilansir pada akhir 2011.

Tim Katastropik yang beranggotakan Danny Hilman dan Andang Bachtiar itu menduga, terdapat bangunan menyerupai piramida di dalam Gunung Padang dan Gunung Sadahurip. Dugaan tersebut berdasarkan hasil penelitian mereka dengan mengebor dan melakukan pemetaan geolistrik ke dalam gunung.

Pada awal Maret 2012, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arif, yang membawahi Tim Katastropik kemudian menggalang dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melanjutkan penelitian dengan tujuan menelusuri peristiwa alam yang mampu melenyapkan peradaban manusia.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengatakan, terlalu awal untuk menyatakan keberadaan piramida di dalam Gunung Padang.

"Tapi, kalau bangunan kuno yaitu punden berundak di atas gunung itu memang benar," kata Daud.

Daud meragukan pemakaian bor dalam proses penelitian Tim Katastropik karena hasil penelitian arkeologis dengan metode penggalian pun terkadang masih meleset. "Sampel karbon dari tanah yang diambil dengan dibor, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diteliti. Tapi, apakah karbon itu terkait betul dengan bangunannya atau tidak? Itu belum diketahui," kata Daud.

Bantahan Daud diperkuat oleh pakar geologi gunung api Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sutikno Bronto, yang menjelaskan bahwa Gunung Padang merupakan salah satu leher lava gunung api purba dengan struktur kekar kolom.

"Struktur kekar kolom itu sudah roboh dan berserakan, kemudian ditata oleh manusia masa lalu sebagai punden berundak untuk lokasi pemujaan," kata Sutikno.

Sutikno menambahkan, bentuk batuan beku berstruktur kolom dan pelat dari terobosan semi-gunung api pada Gunung Padang dapat menyerupai piramida terpendam.

"Sebaiknya informasi tentang adanya bangunan piramida cukup sebagai cerita fiksi penambah daya tarik wisata alam," kata Sutikno.

Terkait bangunan punden berundak yang disebutkan Daud dan Sutikno, Peneliti Senior Pusat Arkeologi Nasional, Truman Simanjutak, mengatakan, situs itu sudah lama dikenal sebagai bangunan megalitik yang diperkirakan ada sekitar 500 tahun Sebelum Masehi atau Masa Perundagian.

"Balok-balok batu prismatik itu memang disusun manusia. Jadi, (balok batu) itu diambil dari bawah dan dibawa ke atas untuk dibangun tempat-tempat persembahan," kata Truman.

Truman mengatakan, proses pembentukan batu kekar kolom di Gunung Padang memang alamiah, sedangkan bukti campur tangan manusia pada Situs Gunung Putri dapat diketahui dari adanya pengunci pada batu agar struktur bangunan tetap kokoh.

"Ya mungkin sudah ada kota di sekitar (situs) itu karena ada ribuan balok batu. Untuk membawa balok ke atas (gunung) dan membangunnya, tentunya dibutuhkan banyak orang. Artinya, sudah ada masyarakat dengan populasi padat di sekitar itu," kata Truman.

Sementara Danny Hilman, yang juga hadir dalam diskusi di Pusat Arkeologi Nasional itu, enggan memberi tanggapan tentang batahan terhadap temuan penelitian Tim Katastropik.

"Iya itu... kan moderator bilang seperti itu," jawab Denny ketika ditanya apakah akan ada penelitian lanjutan di Gunung Padang.

Meskipun penelitian Tim Katastropik mendapat banyak bantahan, anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Yunus Satrio Atmojo, mengatakan, pernyataan piramida di Gunung Padang oleh Andi Arif di sejumlah media massa nasional merupakan pernyataan hipotesis yang memerlukan penelitian lanjutan.

"Kami juga ingin sampaikan kepada publik agar tidak terburu-buru mengaitkan Indonesia dengan Mesir. Semua yang diinformasikan kepada publik harus bisa diverifikasi," kata Yunus.

Penelitian arkeologi, menurut Yunus, memang memerlukan dukungan disiplin ilmu lain seperti geologi.

"Para geolog membicarakan temuan ribuan tahun lalu, sedangkan arkeolog bicaranya ratusan tahun. Arkeolog melihat benda-benda temuan yang (pernah) dipakai ( manusia), kalau tidak ada sisanya baru disepakati kemungkinan struktur geologi," kata Yunus.

Di sisi lain, perdebatan para ilmuwan tentang keberadaan piramida di bawah Situs Gunung Padang yang muncul di media massa justru berkontribusi positif terhadap pariwisata Cianjur.

"Sebelum muncul pemberitaan tentang Situs Gunung Padang, jumlah pengunjung yang tercatat sekitar dua hingga tiga ribu orang dalam sebulan," kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Imam Haris.

Imam mengatakan, peningkatan pengunjung terjadi pada Februari hingga Maret 2012 dengan rata-rata kunjungan hingga 3.000 orang setiap minggunya.

ANT / Kcm

Kini Piramida Gunung Padang Diteliti Tim Terpadu Lintas Ahli

Laporan: Teguh Santosa

RMOL. Hasil rembug para ahli yang dilakukan di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) hari Kamis lalu (29/3) antara lain memutuskan pembentukan tim terpadu lintas ahli untuk meneliti lebih lanjut piramida Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

Hal itu disampaikan salah seorang peneliti yang juga Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) DR. Didit Ontowriyo kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu siang (31/3).

Didit juga membantah berita di harian Kompas edisi hari ini yang disebutnya cukup manipulatif karena menyatakan bawa pertemuan di Puslit Arkenas itu menjadi antiklimaks.

“Pertemuan di Puslit Arkenas sangat positif karena terjadi pertukaran pengetahuan dan pandangan dari bidang ilmu masing-masing. Namun para peserta terutama yang berbasis ilmu sosial masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan revolusi teknologi di dalam ilmu arkeologi,” ujar Didit.

“Arkeolog senior di Indonesia sekalipun belum beradaptasi dengan revolusi tersebut. Termasuk geolog senior seperti Sujatmiko sekalipun,” sambungnya.

Menurut Didit, banyak arkeolog Indonesia yang menyandarkan pengetahuan dan penemuan mereka pada karya Thomas Raffles, Gubernur Inggris yang berkuasa di Nusantara antara 1811 hingga 1816, atau karya-karya arkeolog asing lainnya.

Sementara penemuan masyarakat awam yang biasanya dilakukan tanpa sengaja, misalnya saat mencangkul sawah, selalu diabaikan.

“Selama ini mind set itu mendominasi para arkeolog sehingga saat Tim Katastropik Purba memaparkan hasil riset yang tidak lumrah terjadi perdebatan bahkan penolakan. Hal itu terjadi karena metode baru ini belum menjadi metode arkeologi Indonesia,” masih katanya.

Didit juga mengatakan, banyak para ahli di negara-negara maju yang sudah mencari peninggalan-peninggalan bersejarah di bawah lapisan bumi. [guh]
Tim Katastropik Purba Akan Lanjutkan Core Drilling Di Gunung Padang Dan Sadahurip
Sabtu, 31 Maret 2012 05:15
AddThis Social Bookmark Button

Hasil rembug gunung padang yang dilakukan puslit Arkenas tangal 29 Maret lalu salah satunya adalah pembentukan tim terpadu lintas ilmu untuk penelitian lebih lanjut soal piramida gunung padang.

Tidak seperti yang ditulis Kompas (sabtu, 31 maret 2012) yang pemberitaannya sangat manipulatif seolah-olah pertemuan itu anti klimaks, Pertemuan di puslit arkenas sangat positif, karena berbagai pengetahuan saling bertukar pandangan dari bidang ilmu masing-masing.

Namun para peserta terutama yang berbasis ilmu sosial masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan terjadinya revolusi teknologi di dalam ilmu arkeologi.

Arkeolog senior di Indonesia sekalipun belum beradaptasi dengan revolusi tersebut, bahkan geolog senior seperti Sujatmiko sekalipun.
Para arkeolog Indonesia menemukan situs masih menyandarkan pada sisa-sisa temuan Rafles dan arkelog asing serta temuan dari inisiatif masyarakat misalnya saat memacul menemukan situs.

Selama ini mind set itu mendominasi para arkeolog sehingga saat Tim katastropik purba memaparkan hasil riset yang tidak lumrah digunakan para arkeolog terjadi perdebatan bahkan penolakan, hal itu terjadi karena metode baru ini belum menjadi metode arkeologi indonesia.
Berbeda dengan negara-negara lain yang mulai mencari situs-situs bersejarah yang berada di bawah lapisan bumi.

Tim katastropik purba membawa paradigma baru menjawab kesulitan dalam memetakan situs purba atau benda prasejarah yang terkubur di perut bumi.

Kini pekerjaan menjadi lebih mudah. Itu berkat gadget dan teknologi canggih, seperti pencitraan satelit, pemetaan laser udara, geolistrik, georadar, pemetaan 3D dan lain-lain.

Magnetometer dapat membedakan logam yang terkubur, batu, dan bahan lain berdasarkan perbedaan medan magnet bumi.

Tanah survei resistivitas mendeteksi obyek berdasarkan perubahan dalam kecepatan arus listrik.

Saat ini perkembangan Teknologi bahkan mampu menjawab kekhawatiran kerusakan penggalian situs.

Bantuan teknologi akan mengetahui lebih banyak sebelum kita masuk ke situs itu, seperti ahli bedah yang menggunakan CT scan dan MRI.
Namun kemajuan teknologi tidak akan menghilangkan kebutuhan utama melakukan eskavasi.

Walaupun sebagai uji sampling, pengeboran adalah salah satu metode ilmiah yang membantu menjawab sebagian hipotesa yang menggunakan teknologi.

Tim Katastropik purba dalam waktu dekat akan akan melakukan pengeboran di beberapa titik sebagai survey lanjutan di piramida gunung padang dan secara prinsip sudah disetujui oleh puslit arkenas.

Langkah ini dilakukan secara paralel dengan pembentukan tim terpadu yang digagas wamedikbud.

Selain itu tim katastropik purba sedang menimbang untuk segera melakukan pengeboran di lokasi yang banyak dinanti orang yaitu gunung Sadahurip.

Sekali lagi, pengeboran yang dimaksud bukanlah pengeboran seperti pengeboran minyak dan gas, tetapi pengeboran untuk ambil uji sampling di beberapa titik tertentu, demikian penjelasan yang disampaikan oleh DR Didit Asisten SKP-BSB.

PERPUSTAKAAN BATU DI PERU dan BENUA ATLANTIS dan MU

(Disarikan dari Tulisan Apep wahyudin 2008)

Padaawal tahun 40-an (ketika sedang berkecamuk perang dunia ke-2), empat orang tentara sewaan dari Amerika sedang berusaha untuk menyelamatkan diri mereka setelah usaha mereka untuk melancarkan suatu revolusi itu berhasil ditumpas impas. Peristiwa tersebut terjadi di Equador, Amerika Selatan. Jalan keluar untuk menyelamatkan diri mereka dari kecamuk perang yang sedang berlangsung ialah dengan menyeberangi samudera rimba belantara Amazon yang luas dan masih perawan—belum pernah diselidiki oleh tim ekspedisi manapun juga. Keempat tentara sewaan itu tersesat di dalam hutan rimba yang lebat; suatu daerah yang rawan dan penuh bahaya mengancam dari suku-suku kanibal yang masih hidup berkeliaran. Mereka memasuki suatu kawasan yang dikuasai oleh suku Indian Jibaro—suku yang buas dan masih memakan daging manusia dan tersohor dengan teknik mengerutkan tengkorak kepala manusia hingga menyusut sebesar jeruk. Di dalam rimba belantara itulah, para tentara sewaan itu menemukan suatu rahasia—yang dikemudian hari mereka pendam selama kurang lebih 30 tahun lamanya. Rahasia itu terungkap karena salah seorang dari mereka menceritakan kepada dunia sebelum ia meninggal dunia. Lalu apa sebenarnya yang mereka lihat itu?



seperti Mesir Kuno. Yang menarik perhatian mereka ialah gambar seseorang yang diusung di atas sebuah singgasana. Pakaian yang dikenakan oleh orang yang duduk di singgasana itu demikian aneh untuk jaman itu. Pakaian yang dikenakannya itu mirip-mirip kostum Buck Rogers (tokoh ala Flash Gordon yang sangat populer pada tahun 1940-an). Sinar matahari mulai perlahan meredup; sinarnya dipantulkan oleh gambar dari dua orang yang duduk di sebelah orang yang berada di atas singgasana. Salah satu dari gambar itu mirip figur seekor gorila raksasa.

Di langit-langit juga terdapat beberapa lukisan lainnya yang sama-sama sangat mengejutkan. Di lukisan itu digambarkan sebuah kendaraan yang mirip “piring terbang”. Setelah melihat semua itu, para tentara bayaran itu merasakan suatu perasaan aneh. Mereka mempunyai firasat bahwa mereka telah memasuki suatu tempat yang sangat keramat. Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak masuk lebih dalam lagi ke dalam piramida itu. Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Bangunan-bangunan itu selama kurang lebih 30 tahun mereka rahasiakan keberadaannya. Itu tampaknya hanya akan menjadi rahasia pribadi mereka saja sampai salah seorang dari mereka memutuskan untuk bicara. Sampai saat ini, kita masih menunggu suatu penyelidikan yang serius untuk meneliti hakikat yang ada di balik bangunan aneh dan perkasa itu.

Dari 4 orang tentara sewaan itu, dua diantaranya mati di dalam rimba. Sisanya yang dua berhasil kembali ke Amerika Serikat, tetapi keduanya kini sudah meninggal pula. Kisah ini mengandung seluruh romantika dan misteri dari monumen-monumen bangsa-bangsa yang sudah punah di Amerika Tengah dan Selatan seperti suku Inca, Maya, Aztec, dan lain-lain. Dengan satu perbedaan, piramida di Parada itu disembunyikan demikian rapih oleh alam, sehingga memberikan kesan bahwa memang ada maksud tertentu.

Pihak NASA (badan antariksa AS) disinyalir dan diketahui memiliki foto-foto yang dibuat melalui penginderaan satelit. Foto-foto tentang apa yang nampak seperti 14 buah piramida yang tersebar di seluruh daerah Amazon. Sayang sekali NASA tidak atau belum mau memperkenalkan foto-foto tersebut kepada umum.



PERPUSTAKAAN BATU DI PERU



Dari semua negara Amerika Selatan, negara Peru kemungkinan merupakan negara yang paling banyak memiliki lokasi misterius dari zaman kuno. Di daerah inilah terdapat kebudayaan-kebudayaan kuno misterius yang pernah terlupakan—termasuk kebudayaan Inca—yang tidak hanya berhasil menyatukan daerah itu tetapi juga menciptakan salah satu sistem sosiologi yang dianggap paling sempurna yang pernah ada di planet Bumi ini. Salah satu ekspedisi penyelidikan yang paling menakjubkan ialah yang dipimpin oleh seorang peneliti bernama Gene Savoy antara tahun 1957 sampai tahun 1971. Savoy menemukan sejumlah kota dan kuil kuno (yang sama seperti halnya piramida-piramida Maya) terselimuti oleh hutan belukar selama beberapa abad lamanya.

Pengalaman Savoy itu dapat kita baca dalam 3 jilid buku—yang paling terkenal dari ketiganya ialah “On the Trail of the Feathered Serpent”.



Sementara itu kunci dari misteri jaman-jaman yang menghilang itu mungkin sekali terletak di dalam 11,000 potong batu berukir yang kini merupakan semacam musium pribadi dari seorang peneliti luar biasa yang bernama Dr. Javier Cabrera. Bukti-bukti tentang adanya suatu kebudayaan yang berlainan sama sekali memang bisa demikian “mengejutkan”, sehingga tidaklah mengherankan apabila organisasi-organisasi palaeontologi dan purbakala yang resmi secara sistematis mengabaikan penyelidikannya. Kisah perpustakaan batu itu dimulai pada tahun 1966, ketika seorang kawan Dr. Javier Cabrera menghadiahkan sepotong batu berukir kepadanya.



Dr. Cabrera merasa heran dan tertarik pada seekor makhluk pra-sejarah yang terukir pada batu tersebut (seperti kita ketahui pengetahuan tentang anatomi makhluk pra-sejarah itu baru kita dalami belakangan ini). Ia menanyakan asal-usul dari batu tersebut dan akhirnya mengetahui bahwa penduduk dari desa Ocucaje yang biasa menjual batu-batu semacam itu dengan harga beberapa dollar per potong kepada para turis yang singgah untuk berlibur melepas lelah. Sekitar awal tahun 1970-an, Dr. Cabrera akhirnya berhasil memperluas koleksi batu-batuan berukir itu hingga mencapai ribuan potong. Di antara batu-batu itu ada yang beratnya sampai ratusan kilogram. Menurut perkiraan Dr. Cabrera, kurang lebih ada sekitar 40,000 buah potong batu berukir yang tersebar di seluruh Peru dan dunia luar yang berasal dari daerah yang sama. Sejak pertama kali ia melihat batu itu,



Dr. Cabrera merasa curiga bahwa batu itu merupakan bagian dari suatu perpustakaan lengkap yang ditinggalkan oleh suatu peradaban yang sangat tua usianya. Ia kemudian menjadikan tumpukan batu itu sebagai objek penelitiannya dan ia mencoba untuk memecahkan sandi perpustakaan batu itu; ia menjadikan semua itu tujuan hidupnya. Diantara kesimpulan-kesimpulan yang ia peroleh dari studi itu ialah:



- Perpustakaan itu disusun dalam beberapa bagian atau seri untuk aneka macam subjek, misalnya kedokteran, astronomi, astronautika, fauna pra-sejarah, benua-benua kuno, biologi, dan pengetahuan tentang bangsa-bangsa yang hidup di planet Bumi ini. Selain itu pula memuat data-data mengenai bencana dasyhat yang pernah dialami manusia di Bumi serta exodus atau peristiwa pengungsian makhluk hidup, manusia, ketika mereka meninggalkan planet Bumi.

- Peradaban ini sangat maju dan pengetahuannya serta teknologi yang dikuasainya termasuk pengetahuan mengenai “burung mekanis” atau kapal udara dan kapal angkasa. Selain itu juga tentang pencakokan organ tubuh termasuk otak. Perpustakaan batu itu juga memuat pengetahuan tentang astronomi yang sangat maju dan mengetahui di bagian mana dari alam semesta ini yang terdapat kehidupan.



- Menurut perpustakaan itu, dahulu kala planet Bumi ini mempunyai dua buah bulan kecil di samping bulan yang sampai sekarang ini masih menyertai planet Bumi (jadi diketahui bahwa dahulu planet Bumi kita ini memiliki tiga buah bulan sebagai satelitnya). Tetapi manipulasi energi elektromagnetik melalui sejumlah piramida di lingkaran Equador itu menghilangkan keseimbangan magnetik dari kedua bulan kecil itu dan menyebabkan kedua buah bulan itu jatuh ke Bumi.

- Tabrakan yang terjadi itu sering disinggung oleh Velikovsky, Otto Muck, Gurdjieff, dan lain-lain.

Empat di antara tumpukan perpustakaan batu itu melukiskan belahan Bumi yang memperkuat teori adanya BENUA ATLANTIS dan MU. Namun kehancuran kedua benua legendaris itu terjadi pada jaman yang lebih tua daripada yang diperkirakan. Tetapi dampak traumatisnya sampai sekarang masih tetap tertinggal dalam legenda-legenda dan mitos-mitos yang disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya.



- Peradaban ini telah mencium adanya suatu petaka dasyhat yang pada waktu itu akan menimpa Bumi; oleh karena itu mereka memutuskan untuk meninggalkan planet Bumi untuk menghindari kejadian itu. Paling tidak golongan elitnya yang meninggalkan planet Bumi memilih sebuah planet yang cukup dekat dengan Bumi.

Dr.Cabrera mengakui bahwa ia memiliki sebuah potongan batu yang menggambarkan belahan bola dari planet itu. Nampaknya umat manusia pra-sejarah itu telah meninggalkan suatu warisan lengkap tentang pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bentuk perpustakaan batu, sebelum meninggalkan planet Bumi ini.





JARINGAN TEROWONGAN BAWAH TANAH



Legenda-legenda kuno menyebutkan adanya jaringan-jaringan terowongan bawah tanah yang jaraknya bisa mencapai ratusan kilometer panjangnya malang melintang di seluruh kawasan Equador Selatan, Peru, Bolivia, dan Chili Utara. Bangsa Inca pun ternyata tidak tahu tentang asal usul terowongan panjang di bawah tanah itu. Mereka tidak tahu siapakah yang membangunnya meskipun mereka tahu secara pasti letak pintu-pintu masuk dari terowongan-terowongan tersebut.



Madam Blavatsky, di era tahun 50-an, berkunjung ke Arica, Peru. Dalam catatan perjalanannya, ia melaporkan sebagai berikut: “Kami tiba di Arica pada waktu senja, waktu matahari mulai tenggelam menjelang malam. Kami pada waktu itu tercenggang melihat sebuah batu raksasa yang hampir berbentuk segi empat wujudnya. Batu itu berdiri sendiri dalam kesepian pantai, seolah-olah tak ada hubungannya dengan Pegunungan Andes. Ini adalah makam bangsa Inca. Ketika sinar matahari terakhir menyinari permukaan batu tersebut kita bisa melihat hierogliph aneh (sebentuk tulisan atau simbol yang dipergunakan oleh manusia jaman dahulu sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan) terukir pada permukaan batu tersebut.



Konon batu itu merupakan tempat masuk rahasia dari jaringan terowongan yang luas dan panjang itu. Dalam bahasa Quechuan, kata Arica itu berarti pintu terbuka. Bahasa Cuechuan adalah bahasa Kuno di daerah Andes itu. Seorang Peru menceritakan pada Madam Blavatsky bahwa apabila kita mengirimkan seribu pasukan untuk memasuki terowongan itu maka mereka akan menemui ajalnya dan mati bersama-sama dengan mayat-mayat yang ada di dalam terowongan itu. Seandainya mereka mencoba memberanikan diri untuk memasuki ruangan di mana harta karun orang-orang Inka yang sudah mati itu berada, maka mereka tidak akan pernah bisa masuk ke dalam dan mencapai lokasi penyimpanan harta berharga itu. Tak ada jalan lain masuk yang lainnya, kecuali melalui pintu rahasia yang terletak di sebuah gunung di dekat Rio Payquito, Arica.



Beberapa kilometer dari Arica terdapat lukisan-lukisan tanah Nazca, Peru—yang kesohor itu—yang terletak di lereng-lereng bukit.



Menurut para ahli purbakala, lukisan raksasa itu yaitu yang menggambarkan burung condor, ilama, serigala, dan manusia berasal dari tahun 200SM. Tetapi apa makna dan tujuan dari setiap lukisan tersebut sampai sekarang masih merupakan teka-teki besar yang belum terpecahkan.Di gurun Arica yang gersang, di sebelah selatan terdapat juga hieroglyph raksasa yang tingginya kurang lebih 120 meter. Ini juga suatu teka-teki besar yang memerlukan penyelidikan yang seksama. Untuk apakah orang membuat benda seperti itu? Menurut orang yang sependapat dengan Erich Von Daeniken, ini tidak lain merupakan sebuah rambu-rambu untuk kapal udara, karena penjelasan lainnya tidak sesuai untuk menerangkan kegunaan dari benda itu.



Menurut Dr.Cabrera, seluruh perpustakaan batu yang ditinggalkan oleh “umat pra-sejarah” itu berada di dalam sebuah terowongan bawah tanah. Dr. Cabrera yakin bahwa kurang lebih ada sekitar satu juta potong batu yang tersimpan di sana; suatu perpustakaan yang lengkap yang mengandung hikayat, cerita, atau legenda yang terperinci sejak jaman dahulu kala mengenai planet yang kita tinggali ini. Dr. Cabrera malah menyinggung bahwa ia tahu letak dari salah satu pintu masuk rahasia itu. Tetapi ia menolak untuk masuk ke sana, kecuali apabila ia dikawal oleh satu pasukan dari Angkatan Bersenjata.



Kata Dr. Cabrera: “Di tempat itu terdapat sebuah warisan yang bukan milik Peru saja, tetapi milik seluruh umat manusia”.



DATARAN PUNCAK SIMETRIS



Sejumlah penduduk pegunungan dan anggota patroli perbatasan di Argentina melaporkan bahwa mereka melihat suatu dataran tinggi yang bentuknya aneh sekali. Bentuk dari dataran tinggi itu ialah segiempat sempurna yang kesemua sisinya terdiri dari jalan raya yang lebar. Satu di antaranya merupakan jalan yang lebar sekali.



Di sebelah bagian Chili dari pegunungan Cordillera tersebar berita tentang adanya kota kuno. Orang dari Gunung Chili menamankannya “Enladrillado”, yang artinya dalam bahasa kita ialah “Landasan Pesawat Luar Angkasa” dan lokasinya terletak dekat kota peristirahatan Lo Vilches. Anggota-anggota Lembaga Sejarah Chilli pernah menyaksikan sendiri selama perjalanan dalam suatu ekspedisi ke Pehuenche, yang merupakan tempat penyeberangan di kawasan perbatasan.



Mereka menyaksikan dataran tinggi itu dari puncak gunung yang berdampingan. Yang mereka lihat adalah landasan pendaratan raksasa yang sangat simetris bentuknya. Permukaannya datar sekali dan sangat kontras. Landasan tersebut lebih gelap warnanya dan di pusatnya dapat dilihat bentuk-bentuk lingkaran dan segiempat.



Penduduk yang tinggal dekat tempat itu melaporkan seringnya terlihat kilatan-kilatan cahaya terang. Para petani yang tinggal di sekitar lokasi, ketika diwawancarai, mengaku bahwa mereka sering mendengar suara-suara aneh yang mirip kegaduhan latihan militer pada tengah malam.



Seorang petani yang pernah mengunjungi landasan itu dengan putranya melaporkan bahwa mereka telah menemukan potongan-potongan logam kecil yang setelah diselidiki tidak diketahui susunan campuran kimiawinya. Beberapa ahli berpendapat bahwa “Landasan Pesawat Ruang Angkasa” itu merupakan bagian dari suatu kota yang hilang. Landasan atau dataran itu seperti sebuah airport yang dibangun pada jarak yang tidak mengganggu kesibukan di kota moderen. Apakah “Landasan” yang dilaporkan di Argentina itu sama dengan yang diberitakan di Chilli? Hal ini masih merupakan tanda-tanya yang besar.



Semua peninggalan misterius yang baru saja dipaparkan semuanya terletak di negara-negara Amerika Selatan dan Tengah. Contoh-contoh lainnya yang bisa kita ambil ialah peninggalan-peninggalan misterius lainnya yang terletak di belahan lainnya di dunia ini. Masih terlalu banyak contoh yang dapat kita

kemukakan seperti misalnya peninggalan-peninggalan purbakala yang misterius yang ada di Mesir, Cina, Inggeris dan negara-negara Eropa lainnya; negara-negara Amerika Latin dan Amerika Tengah; India dan lain-lain yang kesemuanya merupakan rangkaian dari teka-teki yang memerlukan jawaban yang pasti karena kalau tidak setiap interpretasi atas setiap peninggalan masa lampau yang misterius itu bisa diajukan dan bisa mengaburkan pandangan kita yang berniat untuk mencari hakikat kebenaran di balik semua peninggalan misterius itu.

Andi Arief Dua

Badai Matahari Super Menakutkan Terekam Kamera

Headline

Sebuah badai yang besarnya lima kali ukuran Bumi pecah di permukaan matahari. Badai berkecepatan 161 ribu km/jam ini juga mengeluarkan gas super panas. Seperti apa?

Suhu tornado ini mencapai dua juta derajat Celcius. Ilmuwan Dr Huw Morgan dari Aberystwyth University yang menemukan tornado matahari ini mengatakan, “Ini menjadi tornado unik dan spektakuler yang memiliki peran memicu badai matahari.”

Di sisi lain, Dr Xing Li dari universitas sama menyatakan, ini menjadi ternado matahari pertama yang pernah terekam seperti dikutip DM.

Jika tornado ini sering terjadi di akar Coronal Mass Ejection (CME) dan menuju Bumi, lingkungan luar angkasa Bumi, satelit dan listrik akan lumpuh.

Penasaran? Ini videonya.

Dailymail