Minggu, 01 April 2012

Gayatri Rajapatni, Tokoh di Balik Kemasyhuran Gajah Mada


KOMPAS IMAGES

Ilustrasi


Sejarawan Universitas British Columbia, Kanada, Earl Drake, yang pernah menjabat Duta Besar Kanada di Indonesia menggugah pemerhati sejarah nasional dengan menyodorkan kembali sejumlah tanda tanya yang luput dipahami orang.

Ia mempertanyakan, bagaimana Gajah Mada yang jelas rakyat kasta jelata bisa membuat keputusan-keputusan penting pada zamannya di Kerajaan Majapahit, seperti Perang Bubat yang menyakitkan masyarakat Sunda hingga kini, sampai ekspedisi internasional mencapai Afrika Selatan. Padahal, Gajah Mada sebagai patih harus tunduk tanpa syarat berada di tengah-tengah zaman di mana raja dipahami sebagai dewa absolut.

Earl Drake menyodorkan gagasan, kemunculan dan peran Gajah Mada dan perjalanan sejarah masa itu tak lain karena tindakan pengatur peran sebenarnya, yakni Gayatri Rajapatni. Sosok perempuan yang diyakini sebagai wajah di balik patung Prajna Paramita yang agung, misterius, dan sendu dari era ini.

Tentang Gayatri ini, Earl Drake melakukan riset pribadi di antara tugas-tugas diplomatiknya di Asia termasuk Indonesia, membangun mosaik yang lebih utuh perihal fase sejarah yang menarik ini.

Earl Drake menyusunnya dalam buku Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit terbitan Penerbit Ombak (Yogyakarta, 2012).

Gayatri, menurut Drake, ditemukan dan dibuktikan dalam argumen-argumen bukunya, merupakan tokoh perempuan yang jenius pada zamannya: seorang ratu rendah hati namun berwawasan tinggi, yang kemudian menyusun strategi untuk Majapahit hingga mencapai kejayaannya di era Hayam Wuruk. Pengaruhnya, termasuk dalam membimbing Gajah Mada. Visi Gajah Mada tak lain adalah pengaruh politik Gayatri.

Earl Drake membuktikan kebesaran Gayatri bisa ditunjukkan oleh jumlah kualitas bukti sejarah, termasuk puisi Prapanca yang nama aslinya Rangkawi Padelegan, padri tersohor tahun 1358, yang khusus memuja dan memberi penghormatan kepada Gayatri, ibu suri kerajaan.

Gayatri sang pemberi ilham, tak lain adalah mentor Gajah Mada, dan patut dipahami sebagai think tank di balik kebesaran Majapahit.

Earl Drake, yang pernah menjabat Direktur Eksekutif Bank Dunia dan pensiun sejak 1992, dijadwalkan akan hadir sendiri membahas bukunya dan keterpesonaannya terhadap sang Prajna Paramita yang sensual di Kampus Universitas Negeri Malang, Senin (2/4/2012) besok.

Bersamanya akan tampil sebagai pembahas arkeolog Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Deny Yudo Wahyudi.

kcm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar