Minggu, 25 Maret 2012

Kwee Tek Hoay: Harta Terpendam Sastra Indonesia

Kesastraan Melayu Tionghoa sejak akhir abad 19 sudah mewarnai kesastraan Indonesia modern. Namun kurikulum nasional mengajarkan pembabakan sastra Indonesia modern dimulai dari Balai Pustaka pada 1920-an. Peneliti Prancis Claudine Salmon mencatat, selama hampir seabad, lebih dari 3000 karya dihasilkan sastrawan Melayu Tionghoa. Salah satu maestronya adalah Kwee Tek Hoay. Kwee tidak hanya menulis karya sastra, ia juga menulis di surat kabar, dan menulis sejarah serta agama. Bagaimana sepak terjang tokoh ini dan karya-karyanya? Berikut laporan reporter KBR68H Guruh Dwi Riyanto.

Sastrawan tak Dikenal

Drama Zonder Lentera karya Kwee Tek Hoay sedang dimainkan oleh Teater Bejana. Asisten Sutradara Hendra menceritakan naskah yang diterbitkan lebih 80 tahun lalu itu.

“Dan yang menarik dari Zonder Lentera itu, cerita soal masalah-masalah kecil yang melebar ke masalah-masalah besar. Jadi awalnya cuma gara-gara ada anak muda ditangkap karena naik sepeda tidak pakai lampu.”

Zonder Lentera adalah salah satu karya sastra Kwee Tek Hoay yang didramakan. Di antara karyanya yang lain adalah Nonton cap Gomeh, Drama di Boeven Digoel, Bunga Roos dari Tjikembang dan Roema Sekola jang Saja Impiken.

Kwee Tek Hoay lahir di Bogor, Jawa Barat pada 1886. Ia menjadi bagian dari arus kesasteraan melayu Tionghoa.

Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)

Pentas Drama Zonder Lentera (doc Teater Bejana)
Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, arus kesasteraan berbahasa melayu pasar ini lahir sejak akhir abad 19, sebelum Belanda mendirikan Blai Pustaka.

“Mulai munculnya penerbitan yang dimiliki para keturunan Tionghoa. Ada surat kabar, almanac dan sebagainya, di sela-selanya muncul puisi dan cerita bersambung.”

Peneliti Prancis Claudine Salmon mendokumentasikan, hingga 1960an lebih dari 3 ribu karya sastra diterbitkan kaum peranakan Tionghoa di Indonesia.

Kwee Tek Hoay berperan dominan di dalamnya, lanjut Ibnu Wahyudi.

“Memang karyanya paling banyak, jelas sekali kandungan isinya. Karya ia yang tercatat 115, mungkin lebih sebenarnya.”

Kwee Tek Hoay menghasilkan karya sebanyak itu tanpa mengenyam pendidikan tinggi, kata Sejarawan Tionghoa dari Yayasan Nabil Didi Kwartanada.

“Dia hanya pendidikan setingkat SD. Orang Tionghoa susah mendapat pendidikan yang cukup baik. Jadi Kwee Tek Hoay lebih sebagai orang yang belajar sendiri sehingga bisa mendapat banyak pengetahuan.”

Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI

Ibnu Wahyudi, Dosen Sastra UI
Dalam kesehariannya, Kwee Tek Hoay adalah seorang jenaka dan berpandangan terbuka. Cicitnya, Susi Kohar mengenang.

“Orang yang lucu, pintar berkelakar. Dia sangat demokratis. Tidak seperti orang zaman dulu, yang tradisi minded. Dia sangat terbuka wawasannya. Apa yang baik dari barat dan timur diambil oleh almarhum KTH.

Kedua sifat itu muncul dalam sejumlah karyanya. Dalam karya drama Nonton Cap Go Meh, dengan gaya jenaka Kwee mengkritik kekolotan tradisi peranakan di Indonesia.

Alkisah pada 1930, ada pasangan suami istri baru dari keluarga Tionghoa, Thomas dan Lies. Thomas mengajak istrinya nonton Cap Gomeh, perayaan 15 hari setelah Hari Raya Imlek. Lies yang kolot menolak, tabu keluar bersama rombongan pria, teman-teman suaminya. Thomas kesal. Ia minta teman prianya, Franz menyamar menjadi perempuan dan menemaninya.

Lies mengira suaminya pergi dengan perempuan sungguhan. Terbakar cemburu, ia minta kerabat perempuannya menyamar menjadi pria dan menemaninya nonton Cap Gomeh. Gantian Thomas marah. Sesampai di rumah, mereka bertengkar dan akhirnya tertawa setelah mengetahui kenyataan sesungguhnya.

Sutradara Teater Bejana Daniel Jacob mengomentari lakon itu.

Susy Kohar, Cicit Kwee

Susy Kohar, Cicit Kwee
“Banci-banci yang di sini diwakili tokoh Franz. Banci yang kita lihat di televisi dan film biasanya cuman untuk lelucon, bodoh, dan lemah. Tapi di Nonton Cap Gomeh, dialah yang membuka kekolotan atau kritik.”

Gebrakan Kwee Tek Hoay juga muncul dalam sikapnya terhadap perempuan. Ia mendukung dan turut membidani kelahiran penulis perempuan peranakan melalui majalah Panorama dan Moestika Panorama. Ia memimpin dua majalah ini pada 1926 sampai 1932.

Pakar Kesasteraan Melayu Tionghoa, Myra Sidharta menceritakan.

“Dia khusus menyediakan beberapa halaman untuk karya-karya wanita. Jadi wanita-wanita itu mengirim tulisan pada dia. Dia mengkoreksi. Seperti kursus tertulis. Kalau sudah disetujui, dia muat dalam majalahnya. Sehingga perempuan-perempuan itu jadi terkenal juga.”

Pembelaan terhadap perempuan juga muncul dalam karya-karya lain Kwee, lanjut Myra.

“Dan dalam tulisan-tulisannya, ia juga banyak membela wanita. Misalnya perempuan-perempuan yang pernah menjadi PSK tapi belakangan bertobat. Dia ada beberapa tulisan mengenai hal itu.”

Putri sulungnya Kwee Yat Nio, merupakan bukti didikan Kwee Tek Hoay. Cicit Kwee, Susi Kohar mengenang aktivitas neneknya yang menjadi sastrawan dan jurnalis perempuan.

Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra

Daniel Jacob (kiri), Sutradara Teater Bejana dan Asistennya Hendra
“Ngikutin kegiatan ayahnya. Dia ikut sejak masih remaja. Maka dia penerusnya Kwee Tek Hoay. Banyak membuat karya sastra dan penulisan di Maanblat Istri (media berbahasa Belanda –red) pada saat itu. Di seminar mewakili wanita bagaimana pemikiran-pemikiran dia.”

Kwee Tek Hoay tidak hanya menjadi penulis untuk golongan peranakan. Karyanya juga menjadi bagian dari catatan tentang gerakan Indonesia modern, kata sejarawan Tionghoa, Didi Kwartanada.

“Serial tulisan yang berjudul, Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Modern Pertama di Indonesia. Kwee Tek Hoay menceritakan suatu organisasi modern pertama Tionghoa yang pertama ada di Indonesia. Ini sekolah dan gerakan Tionghoa Hwee Kwan pengaruhnya besar sekali. Seperti kepada Budi Utomo sedikit banyak dipengaruhi THHK. Tanpa warisan naskah ini, susah kita mencarinya.”

Ia pun berperan penting dalam kehidupan beragama masyarakat peranakan. Bersama teman-temannya, Kwee Tek Hoay mendirikan organisasi keagamaan Tridharma pada 1934.

Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih menceritakan.

Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius

Mara Singgih, Pengurus Pusat Majelis Tridharma, di Depan Altar Buddha, Tao dan Konfusius
“Kwee Tek Hoay mendirikan Tridharma yang kala itu nama organisasinya Sam Kauw Hwee. Artinya perkumpulan tiga agama. Ajaran tridharma oleh orang Tionghoa kebanyakan menjadi agama yang dilakukan bersamaan secara alamiah. Kalau dibilang singkretis ya singkretis.”

Inisiatif mendirikan Tridharma muncul karena gempuran Kristenisasi Eropa.

“Para misionaris yang mendompleng penjajah dan menyebarkan agama di Hindia Belanda. Kwee Tek Hoay melihat banyak orang Tionghoa masuk Kristen dan mulai melupakan ajaran leluhur.”

Pada 1952, rumah Kwee di Cicurug, Jawa Barat disatroni maling. Luka akibat aniaya para begundal itu menutup kiprahnya. Kwee tewas.

Di kalangan peranakan Tionghoa dan sejumlah sastrawan, nama Kwee Tek Hoay tidak asing. Sebaliknya, ia tak dikenal sebagian besar masyarakat Indonesia.

Mengenang Kwee

Jackson adalah jemaat Tridharma di Wihara Silaparamita, Cipinang, Jakarta Timur. Dia dan 75 ribuan penganut Tridharma Indonesia mengenal Kwee Tek Hoay. Foto Kwee terpampang di Wihara Tridharma.

Rutin mereka mengenang Kwee, kata Pengurus Pusat Majelis Tridharma Marga Singgih.

Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma

Foto Kwee di Rumah Ibadah Tridharma
“Untuk menghargai jasanya, setiap tanggal 31 Juli kami memperingati hari Tridharma. 31 Juli adalah tanggal lahir Kwee Tek Hoay. Ini untuk mengenang cita-cita Kwee Tek Hoay yang perlu kita pelihara.”

Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa jurusan sastra yang justru tak mengenal Kwee Tek Hoay. Kurikulum nasional tidak memasukan peran Kesastraan Melayu Tionghoa, apalagi menyebut nama Kwee.

Dosen Sastra Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi mengatakan, kurikulum sastra di Indonesia masih menyisakan warisah kolonial Belanda.

“Dipopulerkan oleh HB Jassin dan Teuww itu kan mulainya Balai Pustaka. Sebuah periodisasi yang tidak jujur. Dasarnya kan kolonial. Balai pustaka kan dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Kalau kita tidak memasukan pengarang Melayu Tionghoa, Indo, dan pengarang pribumi, tentu itu penghianatan sejarah. Itu sangat kolonialistis.”

Ibnu menambahkan, Univesitas Indonesia sudah sepuluh tahun ini memberi ruang satu mata kuliah pengkajian kesasteraan Melayu Tionghoa.

Sementara Pejabat Kementerian Pendidikan Bidang Bahasa Fahirul Zabadi mengatakan, pemerintah akan mengkaji peran Kwee dalam sastra Indonesia.

“Mana karya sastra yang memiliki nilai bagus akan diajarkan pada siswa. Apakah nanti berasal dari Melayu Tionghoa, Bugis, Minang, atau daerah lain, itu tidak kita utamakan. Yang penting nilai-nilainya bermanfaat untuk pembelajaran anak didik kita.”

Sebagai bentuk pengakuan awal, pada Hari Pahlawan November lalu pemerintah memberikan penghargaan Budaya Parama Dharma kepada Kwee. Ia dinilai berperan dalam kesastraan Indonesia.

Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)

Pentas Drama Nonton Cap Go Meh (doc Kominfo)
Salah satu upaya mengenalkan sosok Kwee ditempuh lewat pementasan karya-karya sastranya. Teater Bejana adalah salah satu yang pernah mementaskan karya-karya drama Kwee. Sebelas kali, kata sutradara Daniel Jacob.

“Bisa dikatakan dari tahun 2004 ketika kami memilih memainkan naskah Melayu Tionghoa kami memiliki kenyamananan dan kami senang dalam eksplorasi karena bisa memberikan sesuatu yang beda. Nonton Cap Gomeh sudah 4 kali pentas, Boenga Roos dari Tjikembang lima kali. Naskah sekitar empat, bunga ros, nonton cap gomeh, zonder lentera dan pencuri hati.”

Bulan lalu Teater Bejana mementaskan Nonton Cap Gomeh di Gedung Kesenian Jakarta. Menurut asisten sutradara Hendra, penontonnya cukup banyak.

“Hari pertama mungkin cuman 35%, hari kedua makin meningkat. Hari ketiga lebih 80%. Hampir 300 dari kapasitas 470.”

Upaya memperkenalkan Kwee Tek Hoay juga ditempuh melalui penerbitan. Untuk memperingati 100 tahun kelahirannya, diterbitkan buku berjudul 100 Tahun Kwee Tek Hoay. Myra Sidharta, penyunting buku itu.

“Waktu tahun 87 kita baru dapat gagasan menerbitkan buku 100 tahun Kwee Tek Hoay. Saat itu kita minta berbagai macam penulis dari luar negeri, Claudine Salmon, Leo Suryadinata, untuk kirim tulisan mereka. Nah baru pada 1989 buku itu diluncurkan.”

Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa

Pax Benedanto, Penyunting Buku Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa
Dari penerbitan 10 edisi kumpulan karya Kesasteraan Melayu Tionghoa, dua edisi khusus memuat karya Kwee Tek Hoay. Penyunting seri ini, Pax Benedanto.

“Dibilang paling sering, karena dia tokoh yang sangat produktif dalam kesasteraan melayu Tionghoa. Kita pilih jilid III Drama di Boeven Digoel kita terbitkan khusus. Tebalnya hampir 800 halaman. Itu dianggap sebagai salah satu puncak karya sastra Melayu Tionghoa.”

Selama masa produktifnya, Kwee menulis setidaknya 55 karya sastra, 73 buku keagamaan, dan tak terhitung esai-esainya. Ia sempat menjadi pemimpin redaksi di harian peranakan Sin Bin dan memimpin empat majalah lainnya.

Kwee Tek Hoay layak dikenang, bahkan kualitas karyanya dapat disandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer, kata Dosen Sastra Indonesia Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Pram adalah satu-satunya pengarang Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi nobel sastra.

“Karya-karyanya sebagai karya sastra cukup tertib. Kalau kita ubah bahasa Melayu pasarnya menjadi bahasa Indoesia sekarang. Saya kira karyanya bisa mengiringi Pramoedya, terutama Drama di Boeven Digoel. Dalam hal membangun karya itu menjadi karya sastra, baik dalam memilih kata maupun membangun konflik dia cukup jeli.”

Ahong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar