Jumat, 30 Maret 2012

Candi Gayatri (Seri Peradapan Kuno 1)

1293425717179861464

Candi Gayatri atau bisa juga dikenal dengan Candi Boyolangu terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu Tulungagung Jawa Timur. Ditemukan pada tahun 1914 oleh masyarakat desa setempat. Awalnya bangunan candi Gayatri terkubur di dalam tanah, lalu digali oleh penduduk setempat karena rupanya didalam terdapat bangunan candi beserta patung-patung kuno yang masih terkubur.

Candi Gayatri menurut para ahli sejarah dari BP. Trowulan merupakan candi peninggalan jaman Kerajaan Majapahit. Dibangun ketika era Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk penghormatan dan makam Putri Gayatri yang bergelar Rajapatni istri keempat Raja Kertarajasa Jaya Wardhana (Raden Wijaya). Informasi tentang Candi Gayatri sebagai candi budha diperoleh dari Kitap Negarakertagama, yang menyebutkan terdapat candi budha di wilayah Boyolangu Tulungagung pada tahun 1369-1380 Masehi.
1293441066613542031

Candi Gayatri. Makam Rajapatni

Mengapa Candi Gayatri merupakan candi budha bukan candi hindu? Padahal Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan dengan dominasi agama hindu. Karena Putri Gayatri sepeninggal Raden Wijaya mengabdikan hidupnya sebagai biksuni hingga akhir hayatnya. Sehingga dalam kompleks bangunan Candi Gayatri ditemukan Candi Budha dengan sikap tangan arca adalah Dharmacakramuda (mengajar). Sayangnya ketika ditemukan patung-patung Budha tersebut dalam keadaan rusak dengan kepala terpenggal. Sekarang sisa dari patung-patung yang ditemukan di areal Candi Gayatri telah disimpan dan diamankan di Museum Daerah Tulungagung.


1293425494642819258

Candi Gayatri merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara. Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Bangunan pertama disebut sebagai bangunan induk perwara, karena berukuran lebih besar dibandingkan dua bangunan yang lain. Bangunan ini terletak di tengah-tengah bangunan lainnya.

Bangunan Induk Perwara terdiri dari dua teras berundak yang hanya tinggal kaki bangunannya.Bangunan berbentuk bujur sangkar dengan panjang dan lebar 11, 40 Meter. Sisa ketinggian candi kurang lebih 2,30 Meter.

Bentuk area menggambarkan perwujudan Dhyani Budha Wairocana,dengan duduk diatas singgasana berhias daun teratai.Sikap tangan arca Dharmacakramuda dan bertatah halus dengan gaya Majapahit.Bangunan perwara yang kedua sudah rusak, berada di selatan bangunan induk. Hanya tertinggal bangunan kaki saja. Bangunan perwara ketiga, yang berada di sebelah utara bangunan induk kondisinya sudah runtuh, dengan bentuk bujur sangkar dengan panjang dan lebar 5,80 meter.


1293440452737154569


Sudah empat kali saya mengunjungi Candi Gayatri, berdasarkan novel Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Bahwa Candi Gayatri adalah makam putri Gayatri. Ibunda dari Dyah Gitarja (Tribuwanatunggadewi, raja ketiga Majapahit) dan Dyah Wiyat (Rajadewi Maharajasa, yang berkuasa di kediri).


Kesan saya ketika pertama kali mengunjungi Candi Gayatri sewaktu saya SD kira-kira 20 tahun yang lalu. Kondisi patung-patung di sekitar Candi sangat mengenaskan. Semua kepala patung terpenggal dan beberapa tangan candi terpotong.Seringkali terjadi kasus pencurian patung disana. Akhirnya patung-patungnya di pindah Di Museum Tulungagung dan museum Trowulan Mojokerto.


12934405252003304072

Taman di candi gayatri. doc sari




Satu minggu yang lalu saya mengunjungi Candi Gayatri, terlihat areal candi yang cukup asri. Dengan taman bebunga di sekitar bangunan candi walaupun candi dan patungnya sudah rusak. Juru kunci yang saya wawancarai terlihat cukup telaten membersihkan dan memelihara areal Candi Gayatri.


12934409272013509041

Sisa reruntuhan Candi Gayatri. Doc sari




Harapannya kedepan adalah tidak rusak, Kita sebagai generasi muda menjaga warisan bersejarah. Tidak melihatnya bukan hanya sebagai batu-batu tanpa makna tetapi sarat makna dan sejarah.


Setidaknya dari Candi Gayatri secara kronologis merunut kebelakang waktu yang jauh..jaman dahulu pernah terdapat pusat agama Budha Di Boyolangu Tulungagung.Dan mungkin ada peradapan yang telah maju dan masih terkubur di wilayah Boyolangu. Karena beberapa informan yang saya temui seringkali ketika menggali tanah mereka menemukan bangunan semacam candi, tetapi hal itu dibiarkan saja karena respon aparat kurang tanggap ketika diberikan laporan.


Dan di Wilayah Kabupaten Tulungagung masih banyak terdapat beberapa seri candi yang lain. Tetapi sayangnya kurang ada kajian arkeologi yang komprehensif untuk menguak artefak-artefak tersebut.

Selamat Berlibur.

salam lestari!

Sari Oktafiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar